BandungOKE
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam
  • Dengar Radio!Baru
No Result
View All Result
BandungOKE
No Result
View All Result

Pendakian Rinjani 28 Maret: Antara Lonjakan Wisata dan Komitmen Pelestarian

Denny Surya
24 Februari 2026 - 09:46
Pendakian Rinjani 28 Maret: Antara Lonjakan Wisata dan Komitmen Pelestarian



Jakarta, BandungOke – Pendakian Gunung Rinjani akan kembali dibuka pada 28 Maret 2026 setelah ditutup akibat cuaca ekstrem sejak awal tahun.

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menyatakan pembukaan dilakukan usai evaluasi menyeluruh terhadap kondisi jalur, fasilitas, serta kesiapan sumber daya manusia.

RelatedPosts

Arus Mudik Lebaran 2026 Tembus Rekor Tertinggi, One Way Nasional Berlaku

Nurani Astra Kirim Ambulans dan Alkes untuk Pemulihan Sumatra

Mudik Aman Berbagi Harapan, PTDI Fasilitasi Pemudik ke Kampung Halaman

“Rencana pembukaan pendakian tanggal 28 Maret 2026 mendatang,” kata Kepala Balai TNGR Budhy Kurniawan. Selasa (24/2/2026)

Namun, pembukaan ini tak sekadar soal memulihkan arus wisata. Rinjani adalah kawasan konservasi dengan tekanan ekologis tinggi: erosi jalur, timbulan sampah, hingga risiko gangguan habitat.

Sepanjang 2025, jumlah pendaki mencapai 80.214 orang.

Angka ini menegaskan daya tarik global Rinjani—sekaligus potensi beban lingkungan yang menyertainya.

TNGR mengklaim telah memperkuat tata kelola berbasis konservasi: penggunaan gelang RFID dan personal beacon untuk pemantauan pendaki, pusat komando terpadu, integrasi komunikasi radio, hingga sistem zero waste digital.

Pendekatan ini diarahkan untuk membatasi risiko kecelakaan sekaligus menekan dampak ekologis.

Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal menegaskan arah kebijakan tak lagi pada pariwisata massal.

“Arah pengelolaan Gunung Rinjani bukan menuju pariwisata massal, melainkan pendakian yang eksklusif, berkualitas, dan berorientasi konservasi. Pengalaman kelas dunia harus berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem,” ujarnya.

Pertanyaannya: sejauh mana konsep eksklusif mampu menekan tekanan ekologis? Pembatasan kuota, pengawasan ketat, dan keterlibatan masyarakat lokal menjadi kunci.

Tanpa itu, pembukaan kembali hanya akan mengulang pola lama—lonjakan kunjungan tanpa kontrol daya dukung.

Rinjani bukan sekadar destinasi petualangan, melainkan bentang alam vulkanik yang menopang kehidupan sosial-ekologis Lombok.

Membuka jalur pendakian berarti membuka kembali ujian: apakah konservasi benar-benar menjadi pijakan, atau sekadar narasi promosi wisata.***

Tags: Gunung RinjanikonservasiNTBpelestarian lingkunganTNGRwisata alam
Share222Tweet139Share55

Trending

Harga Sewa Kos di Bandung 2026
Ragam

Harga Sewa Kos di Bandung 2026, Daerah Ini Masih Terjangkau untuk Mahasiswa dan Karyawan

5 jam ago
umkm
Berita

UMKM Jangan Santai, Salah Kecil Soal Pajak Bisa Berujung Denda hingga Pidana

6 jam ago
Hidayat Nur Wahid Ungkap Asal-usul Halal Bihalal dan Konteks Kebangsaan
Ragam

Hidayat Nur Wahid Ungkap Asal-usul Halal Bihalal dan Konteks Kebangsaan

14 jam ago
Pengajuan KUR BRI di Bandung 2026
Berita

Pengajuan KUR BRI di Bandung 2026 Bisa Online, Ini Syarat dan Cara Lengkapnya

16 jam ago
Nina Fitriana Desak Pemkot Bandung Percepat Transformasi Angkot
Kota Bandung

Nina Fitriana Desak Pemkot Bandung Percepat Transformasi Angkot

16 jam ago
  • Redaksi
  • About
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Dewan Pers
  • Advertise
  • Contact Us

No Result
View All Result
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam
  • Dengar Radio!