Bandung, BandungOke — Anggota MPR RI dari Fraksi Golkar, Nurul Arifin, menyatakan bahwa nilai-nilai Pancasila sejalan dengan ajaran Islam dan dapat diamalkan melalui ibadah Ramadan.
Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Bandung, Senin (9/2/2026), menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
“Butir-butir Pancasila dan nilai-nilai ke-Islaman itu saling mendukung dan memperkuat. Oleh karenanya di bulan suci Ramadan ini mari kita isi dengan melaksanakan ibadah puasa dan ibadah lainnya, sekaligus melaksanakan pengamalan butir-butir Pancasila,” kata Nurul.
Menurut dia, munculnya narasi yang mempertentangkan Pancasila dengan syariat Islam perlu diluruskan. Ia menegaskan bahwa Pancasila justru lahir dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia, termasuk ajaran Islam.
“Pancasila lahir dari syariat Islam, sehingga keduanya bisa saling menguatkan dan menjadi jati diri bangsa,” ujarnya.
Puasa dan Empati Sosial
Nurul menjelaskan, ibadah puasa tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga sosial. Dengan menahan lapar dan dahaga, umat Islam diajak merasakan kondisi masyarakat yang kurang beruntung.
“Melalui ibadah puasa, selain sebagai bentuk ketaatan pada Allah SWT, kita juga diajarkan untuk bisa merasakan kondisi orang lain yang kurang beruntung dengan menahan lapar dan dahaga. Kedua hal tersebut sesuai dengan sila pertama dan kedua dari Pancasila,” katanya.
Ia menambahkan, Ramadan juga menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial melalui zakat dan sedekah.
“Ramadan mengetuk nurani kita untuk peduli terhadap lingkungan sekitar dengan memberikan zakat dan sedekah. Hal ini berkaitan dengan sila kedua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta sila kelima, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” pungkasnya.
Penguatan 4 Pilar Kebangsaan
Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang mencakup Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, menurut Nurul, penting terus dilakukan, terutama menjelang momentum keagamaan seperti Ramadan.
Ia berharap masyarakat, khususnya umat Islam, tidak mudah terpengaruh narasi yang memisahkan nilai agama dan nilai kebangsaan. Menurutnya, keduanya dapat berjalan beriringan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.***





