Bandung, BandungOke – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memantik kekhawatiran pasar energi global. Jalur distribusi minyak dunia di kawasan Teluk, khususnya Selat Hormuz, menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan minyak mentah internasional.
Namun di tingkat domestik, situasi tersebut dinilai belum perlu disikapi secara berlebihan oleh masyarakat. Stok bahan bakar minyak (BBM) nasional masih berada dalam kondisi relatif aman, meskipun secara struktural Indonesia tetap menghadapi tantangan ketahanan energi.
Pengamat dan Peneliti Ekonomi Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, menilai distribusi energi nasional saat ini masih berjalan normal. Menurutnya, pemerintah bersama badan usaha energi masih mampu menjaga stabilitas pasokan.
“Secara umum kondisinya masih aman dan terkendali. Stok nasional memang sekitar 22 hari, tetapi suplai berjalan secara real time sehingga masyarakat tidak perlu panik,” ujar Acuviarta, Kamis, 12 Maret 2026.
Angka cadangan sekitar 22 hari tersebut, menurut Acuviarta, bukanlah anomali. Kapasitas penyimpanan BBM nasional memang terbatas sehingga sistem pasokan bergantung pada distribusi yang berlangsung terus-menerus.
Model distribusi ini membuat stabilitas pasokan sangat bergantung pada kelancaran rantai logistik energi global, termasuk jalur perdagangan minyak internasional.
Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz, jalur sempit di Timur Tengah yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Ketegangan di kawasan tersebut kerap memicu kekhawatiran pasar energi global karena potensi gangguan distribusi.
Meski demikian, Acuviarta menilai konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah tidak serta-merta berdampak langsung terhadap ketersediaan BBM di tingkat lokal.
“Ini bukan hanya persoalan Kota Bandung atau Indonesia, tetapi persoalan global. Jadi masyarakat tidak perlu menafsirkan kondisi ini sebagai ancaman yang membuat panik,” katanya.
Dalam pandangannya, respons publik justru menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi stabilitas pasar. Kepanikan masyarakat, misalnya melalui pembelian berlebihan atau penimbunan barang, justru berpotensi menciptakan tekanan baru pada distribusi.
Fenomena panic buying, kata dia, dapat memicu ketidakseimbangan pasokan di tingkat ritel, meskipun secara makro stok energi masih tersedia.
Karena itu, masyarakat diminta menjaga pola konsumsi tetap rasional, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri yang biasanya diiringi lonjakan permintaan bahan bakar dan kebutuhan pokok.
“Tipsnya sederhana, konsumsi sesuai kebutuhan saja. Jangan berspekulasi terhadap kondisi yang belum tentu terjadi, apalagi sampai menimbun barang,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pengelolaan keuangan rumah tangga yang bijak di tengah dinamika ekonomi global. Prioritas pengeluaran pada kebutuhan utama dinilai menjadi langkah realistis untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, Acuviarta tetap memandang peluang de-eskalasi konflik terbuka. Dalam pengalaman dinamika ekonomi-politik global, ketegangan biasanya diikuti berbagai upaya diplomasi untuk menurunkan risiko krisis yang lebih luas.
“Dalam dinamika ekonomi dan politik, situasi seperti ini memang selalu ada. Tetapi biasanya akan ada upaya untuk menurunkan ketegangan agar dampaknya tidak meluas,” ujarnya.
Dengan demikian, stabilitas ekonomi lokal, termasuk pasokan energi, dinilai masih berada dalam koridor yang terkendali. Sikap rasional masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keseimbangan tersebut.***





