Bandung, BandungOke — Peringatan Hari Al-Quds Internasional 2026 di Bandung diwarnai seruan keras terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Sejumlah elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam YES Indonesia dan Aliansi Nasional Anti Zionis (ANAZ) menuding krisis kemanusiaan di kawasan itu sebagai kegagalan moral komunitas internasional.
Dalam pernyataan sikap yang disampaikan pada Jumat, 13 Maret 2026, koalisi tersebut menegaskan bahwa isu Al-Quds tidak lagi sekadar persoalan geopolitik regional, melainkan ukuran keberpihakan dunia terhadap nilai kemanusiaan.
Mereka menuntut penghentian segera praktik pembersihan etnis di Jalur Gaza serta pencabutan blokade yang disebut telah menjadikan kelaparan sebagai alat perang terhadap warga sipil Palestina.
Tudingan Langsung kepada Washington
Pernyataan paling keras diarahkan kepada Amerika Serikat. Dalam dokumen sikapnya, koalisi menilai Washington memegang peran kunci dalam konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
“Tanpa dukungan militer masif dan perlindungan politik dari Washington, rezim pendudukan tidak akan mampu melanjutkan kejahatan kemanusiaan ini. Amerika Serikat memikul tanggung jawab penuh atas krisis di Palestina, Iran, Lebanon, hingga Yaman,” tegas perwakilan koalisi dalam keterangan tertulisnya, yang diterima BandungOke, Sabtu (14/3/2026).
Koalisi itu menilai dukungan militer dan politik dari Amerika Serikat menjadi faktor yang memperpanjang konflik serta memperburuk kondisi kemanusiaan di kawasan.
Duka atas Gugurnya Ayatullah Khamenei
Peringatan tahun ini juga dibayangi suasana duka menyusul gugurnya Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang disebut koalisi tewas akibat agresi militer Amerika Serikat.
Menurut mereka, peristiwa tersebut merupakan eskalasi berbahaya yang dapat memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, koalisi menilai Iran tetap konsisten mempertahankan agenda dukungan terhadap Palestina sejak era Imam Khomeini, yang menggagas peringatan Hari Al-Quds sebagai simbol solidaritas global bagi rakyat Palestina.
Sorotan pada Lebanon dan Yaman
Koalisi juga menyoroti meningkatnya konflik yang kini merambah wilayah Lebanon dan Yaman.
Mereka menyatakan solidaritas kepada masyarakat di kedua negara tersebut yang dinilai turut terdampak eskalasi militer.
“Kami mengutuk eskalasi brutal ini. Upaya aneksasi di Tepi Barat dan penghapusan identitas Palestina di Al-Quds Timur adalah proyek ilegal yang harus dihentikan oleh komunitas internasional secara kolektif,” lanjut pernyataan tersebut.
Seruan Boikot Produk
Dalam kesempatan yang sama, koalisi menyerukan penguatan gerakan boikot terhadap produk-produk yang dinilai memiliki keterkaitan dengan entitas pendudukan Israel.
Mereka juga mengkritik berbagai upaya normalisasi hubungan yang disebut kerap muncul dalam forum internasional. Bagi mereka, normalisasi dianggap bertentangan dengan upaya memperjuangkan keadilan bagi rakyat Palestina.
Pernyataan sikap tersebut ditutup dengan penegasan bahwa dukungan terhadap Palestina akan terus disuarakan hingga negara itu memperoleh kedaulatan penuh.
Tentang Hari Al-Quds
Hari Al-Quds Internasional diperingati setiap tahun pada Jumat terakhir bulan Ramadan.
Peringatan ini pertama kali diperkenalkan oleh pemimpin Revolusi Iran, Ayatullah Ruhollah Khomeini, sebagai bentuk solidaritas global terhadap perjuangan rakyat Palestina dan penolakan terhadap pendudukan wilayah mereka.***





