“Ribuan Perantau Jawa Tengah Mudik Bersama dari Bandung, Ada Kisah Dua Pemudik Disabilitas”
Bandung, BandungOke – Suasana halaman Lanud Husein Sastranegara, Bandung, terasa berbeda sejak pagi.
Puluhan bus berjajar rapi, sementara ratusan orang dengan tas besar dan kardus oleh-oleh menunggu giliran naik.
Di antara keramaian itu, wajah-wajah perantau Jawa Tengah tampak sumringah. Setelah sekian lama merantau, mereka akhirnya pulang.
Sebanyak 1.142 perantau Jawa Tengah diberangkatkan dalam program mudik gratis 2026 yang digagas Paguyuban Jawa Tengah (PJT) Jawa Barat.
Mereka berangkat menggunakan 23 bus menuju berbagai kota dan kabupaten di Jawa Tengah.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, H. Taj Yasin Maimoen, mengatakan program mudik gratis ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap para perantau agar dapat pulang ke kampung halaman dengan aman dan nyaman saat Idulfitri.
“Program mudik gratis ini kami hadirkan untuk membantu warga Jawa Tengah yang merantau agar bisa pulang kampung dengan aman, nyaman, dan tanpa terbebani biaya transportasi,” ujar Taj Yasin saat sambutan.
Ia menambahkan, program tersebut juga diharapkan dapat mengurangi kepadatan kendaraan pribadi di jalur mudik sekaligus meningkatkan keselamatan perjalanan.
“Selain membantu masyarakat, program ini juga diharapkan bisa mengurangi kepadatan lalu lintas saat arus mudik serta meningkatkan keselamatan di jalan,” tambahnya.
Ketua Paguyuban Jawa Tengah Jawa Barat, Farhan Djuniadji, mengatakan program ini terlaksana berkat dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah serta sejumlah pemerintah daerah.
“Program mudik gratis tahun 2026 ini kami dari Paguyuban Jawa Tengah di Jawa Barat alhamdulillah mendapatkan bantuan dari Pemprov Jawa Tengah yang berkoordinasi dengan pemda kabupaten se-Jawa Tengah,” kata Farhan saat ditemui sebelum keberangkatan. Senin 16 Maret 2026.
Bus-bus itu berasal dari berbagai pihak. Sebanyak 11 bus dari Baznas Jawa Tengah, 7 bus dari Pemerintah Kabupaten Cilacap, 3 bus dari Pemkab Sukoharjo, serta 2 bus dari Baznas Banjarnegara.
Para pemudik datang dari berbagai kota di Jawa Barat—mulai dari Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Sumedang, Karawang, Sukabumi hingga Cianjur. Namun mayoritas peserta adalah pekerja dan mahasiswa yang tinggal di Bandung dan Cimahi.
Di antara mereka ada buruh lepas, guru ngaji, pedagang kaki lima, hingga mahasiswa yang merantau untuk menempuh pendidikan.
“Antusiasnya luar biasa. Banyak teman-teman perantau kita yang sudah empat tahun bahkan dua tahun tidak bisa pulang, alhamdulillah dengan bantuan bus mudik ini sangat membantu,” ujar Farhan.

Perjalanan Panjang Dua Pemudik Disabilitas
Di tengah rombongan besar itu, ada dua peserta yang menjadi perhatian panitia. Keduanya adalah pemudik disabilitas yang tetap ingin pulang ke kampung halaman.
Salah satunya berasal dari Sukoharjo. Ia tidak bisa duduk lama sehingga harus berbaring selama perjalanan. Panitia menyiapkan tempat khusus di kursi belakang bus agar ia dapat beristirahat bersama keluarganya.
Peserta lainnya tujuan Klaten. Ia seorang tunawicara dengan kondisi autisme ringan yang juga didampingi keluarga selama perjalanan.
“Dua peserta disabilitas ini semuanya sudah dicek kesehatannya oleh Dinkes dari Puskesmas Pasir Kaliki. Alhamdulillah dinyatakan sehat dan boleh ikut berangkat,” kata Farhan.
Untuk mengantisipasi perjalanan jauh, panitia juga menyiapkan dua ambulans dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang akan mengawal rombongan bus sepanjang perjalanan.
“Insyaallah akan mendampingi konvoi di belakang, jadi kalau ada apa-apa bisa langsung ditangani,” ujarnya.
Dari Bandung Menuju Belasan Kota di Jawa Tengah
Rombongan bus ini akan menyebar ke berbagai daerah di Jawa Tengah. Tujuan mereka antara lain Wonogiri, Sragen, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Salatiga, Grobogan, Demak, Banjarnegara, Cilacap, Banyumas, Purworejo, hingga Purbalingga.
Dari semua tujuan tersebut, Cilacap menjadi daerah dengan pemudik terbanyak.
“Tujuan paling banyak Cilacap karena dari pemdanya mengirim bantuan tujuh bus dengan sekitar 339 penumpang,” kata Farhan.
Program mudik ini bukan yang pertama kali digelar. Paguyuban Jawa Tengah di Jawa Barat sudah menyelenggarakannya lima kali dengan lokasi keberangkatan berbeda-beda.
Namun Farhan mengakui jumlah bus yang tersedia masih jauh dari kebutuhan para perantau.
“Hasil survei kami dari Juli sampai Desember, peminat mudik itu 2.345 orang. Nah yang bisa berangkat sekarang baru 1.142, baru separuhnya,” kata dia.
Karena itu, ia berharap pemerintah provinsi dan kabupaten di Jawa Tengah bisa menambah dukungan pada tahun-tahun berikutnya.
“Harapan kami dari Pemprov Jawa Tengah dan pemda kabupaten yang peminatnya banyak, kami mohon bisa lebih membantu para perantau,” ujar Farhan.
Momen Pulang yang Selalu Ditunggu
Menjelang keberangkatan, beberapa pemudik tampak saling berpamitan. Ada yang memeluk teman sekamar di kos, ada yang menenteng plastik oleh-oleh khas Bandung.
Di antara deru mesin bus yang mulai menyala, suasana haru bercampur bahagia terasa jelas. Bagi para perantau, perjalanan ini bukan sekadar pulang kampung. Ini tentang kembali ke rumah, bertemu orang tua, dan merayakan Lebaran bersama keluarga setelah sekian lama berjauhan.***





