“Paradoks Bandung, kota dengan geliat ekonomi kreatif yang kuat, namun masih menyisakan kesenjangan pendapatan yang tajam”
Bandung, BandungOke – Momentum Idulfitri yang biasanya identik dengan euforia kemenangan justru dimanfaatkan Wali Kota Muhammad Farhan untuk menyoroti sisi lain wajah ekonomi Kota Bandung.
Di balik suasana religius, angka pengangguran dan ketimpangan ekonomi masih membayangi kota yang selama ini dikenal sebagai pusat kreativitas tersebut.
Dalam sambutannya sebelum Salat Idulfitri di Plaza Balai Kota, Sabtu (21/3/2026), Farhan menekankan bahwa perayaan tidak boleh mengaburkan realitas sosial.
Ia mengingatkan, masih terdapat sekitar 100 ribu warga yang hidup dalam kondisi miskin dan miskin ekstrem—angka yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menjangkau semua lapisan masyarakat.
“Saya melihat langsung kondisi warga yang sangat memprihatinkan. Tidak cukup hanya dengan bantuan, tetapi mereka membutuhkan kesempatan untuk hidup lebih baik,” ujarnya dikutip Minggu 22 Maret 2026.
Pernyataan itu menjadi semakin relevan ketika melihat kondisi ketenagakerjaan. Farhan mengungkapkan, sekitar 7,4 persen angkatan kerja produktif di Bandung masih belum mendapatkan pekerjaan.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan indikator bahwa sektor ekonomi belum mampu menyerap tenaga kerja secara optimal.
Lebih jauh, ketimpangan ekonomi juga tercermin dari gini rasio yang mencapai 0,42—lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Angka tersebut menunjukkan distribusi pendapatan yang tidak merata, di mana pertumbuhan ekonomi cenderung terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
Kondisi ini memperlihatkan paradoks Bandung, kota dengan geliat ekonomi kreatif yang kuat, namun masih menyisakan kesenjangan pendapatan yang tajam.
Pengangguran usia produktif berpotensi menjadi beban sosial jangka panjang jika tidak diiringi kebijakan penciptaan lapangan kerja yang agresif dan berkelanjutan.
Farhan menilai persoalan tersebut tidak bisa ditangani pemerintah semata. Ia menekankan perlunya keterlibatan masyarakat melalui instrumen sosial berbasis keagamaan, seperti zakat, infak, dan sedekah.
“Zakat bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi juga solusi sosial agar kekayaan tidak hanya berputar di kelompok tertentu,” katanya.
Seruan itu menggarisbawahi bahwa ketimpangan ekonomi tidak hanya persoalan kebijakan fiskal, tetapi juga solidaritas sosial.
Namun, tantangan utama tetap berada pada bagaimana mengubah bantuan menjadi peluang ekonomi—bukan sekadar distribusi sesaat.
Idulfitri tahun ini menjadi refleksi bahwa persoalan pengangguran dan ketimpangan di Bandung masih jauh dari selesai.
Angka 7,4 persen pengangguran usia produktif dan gini rasio 0,42 menjadi alarm yang tak bisa diabaikan.
Tanpa langkah struktural yang lebih tegas—mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga penguatan ekonomi inklusif—ketimpangan berisiko semakin melebar di tengah pertumbuhan kota.***





