Bandung, BandungOke – Kematian dua anak harimau benggala, Huru dan Hara, menjadi simbol krisis mendalam pengelolaan Bandung Zoo pasca penutupan oleh Pemerintah Kota Bandung.
Kekacauan tata kelola, tersendatnya dana pakan, dan nasib ratusan pekerja yang menggantung memperlihatkan situasi darurat yang belum tertangani secara sistematis.
Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono, turun langsung ke Bandung Zoo pada Jumat (27/3) untuk menyerap aspirasi pekerja dan meninjau kondisi satwa.
Dalam kunjungan tersebut, Ono menerima keluhan terkait keterlambatan pakan, minimnya fasilitas operasional, serta ketidakjelasan status tenaga kerja.
Usai peninjauan, DPRD Jabar memastikan akan memanggil Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat dan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat guna meminta pertanggungjawaban.
“Hari Senin 30 Maret 2026, kami akan memanggil BKSDA Jabar dan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat untuk memastikan tanggung jawab mereka dijalankan dengan benar,” tegas Ono saat berada di lokasi.
Selama masa transisi sejak Agustus 2025 hingga Februari 2026, operasional kebun binatang disebut hanya bergantung pada donasi sukarela pengunjung.
Ketergantungan pada “kencleng” ini berdampak pada penurunan kualitas pakan, termasuk bagi satwa karnivora yang membutuhkan standar nutrisi tinggi.
Kematian Huru dan Hara diduga terkait kondisi pakan yang tidak memadai serta minimnya pengawasan operasional.
Bahkan setelah pakan standar disediakan kementerian, mekanisme pembayaran kepada vendor kerap terlambat, menambah beban di lapangan.
“Pakan tambahan atau extra fooding juga belum disediakan. Belum lagi urusan teknis seperti solar, bensin, kebersihan, hingga penanganan pohon tumbang yang terkendala minimnya fasilitas dari kementerian,” papar Ono.

Dalam pertemuan dengan pekerja, DPRD juga menerima laporan mengenai tidak adanya rapat koordinasi dan ketiadaan Standard Operating Procedure (SOP) yang jelas.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan satwa berjalan tanpa arah yang pasti.
Ono menegaskan, sejak awal DPRD telah mendorong langkah penyelamatan satwa, termasuk opsi pemindahan ke kebun binatang lain.
“Sejak awal kami sudah sampaikan arahan kepada manajemen dan Wali Kota Bandung. Alternatif pertama yang kami usulkan adalah pemindahan hewan ke kebun binatang lain, seperti Ragunan atau Surabaya, demi menjamin keselamatan mereka,” ujar Ono.
Selain persoalan satwa, DPRD juga menyoroti nasib ratusan karyawan yang tetap bekerja merawat hewan dalam ketidakpastian status dan penghasilan.
Mereka disebut terus bertahan secara swadaya demi memastikan satwa tetap terawat.
“Ini urusan kemanusiaan dan kesejahteraan. Pemerintah harus hadir agar para karyawan ini bisa bekerja dengan tenang dan nyaman dalam mengurus aset-aset berharga tersebut,” pungkasnya.
Kematian Huru dan Hara mempertegas bahwa krisis Bandung Zoo bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga kegagalan koordinasi lintas otoritas.
Tanpa langkah cepat, kondisi satwa dan pekerja berpotensi semakin memburuk.***





