Bandung, BandungOke – Menjelang awal Ramadan, Idul Fitri 1447 H, dan Tahun Baru Imlek 2026, pemerintah memperketat intervensi pasar pangan.
Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak nasional digelar sebagai langkah menahan gejolak harga yang kerap meningkat saat permintaan melonjak.
Perum BULOG bersama BAPANAS dan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat mengadakan operasi ini secara hybrid pada 13 Februari 2026.
Di Jawa Barat, program dijalankan di 36 titik yang tersebar di 14 kabupaten dan kota. Intervensi difokuskan pada komoditas strategis.
Pemimpin Wilayah BULOG Jawa Barat, Nurman Susilo mengatakan BULOG menyalurkan sekitar 54,3 ton beras SPHP, disertai beras premium, minyak goreng, dan gula pasir dengan harga di bawah pasar.
“Pola ini ditujukan untuk menutup celah kenaikan harga yang dipicu lonjakan konsumsi musiman,” kata Nurman. Jum’at 13 Februari 2026

Secara makro, ujarnya, GPM merupakan instrumen stabilisasi jangka pendek yang kerap digunakan pemerintah untuk meredam inflasi pangan bergejolak.
Tanpa intervensi, kenaikan harga beras dan minyak goreng menjelang hari besar keagamaan berpotensi menekan daya beli masyarakat kelas menengah bawah.
“Operasi pasar murah ini bagian dari pengamanan pasokan,” tegasnya.
Menurutnya, kegiatan GPM ini dilaksanakan salah satunya untuk menjaga stabilitas pasokan.
“Kami memastikan ketersediaan beras dan komoditi lainnya di tengah masyarakat serta mengantisipasi lonjakan harga pangan yang biasanya terjadi menjelang hari besar keagamaan,” tegasnya di lokasi GPM Lapangan TVRI Cibaduyut, Bandung.
Secara nasional, GPM digelar di 279 titik pada 167 kabupaten dan kota. Pemerintah berharap operasi simultan ini mampu menahan tekanan inflasi pangan sekaligus menjaga stabilitas sosial menjelang musim konsumsi puncak.****






