“Buku ini ditulis oleh anak Bandung yang tidak memiliki tradisi bahari” Ipong Witono
Bandung, BandungOke – Buku itu tiba tanpa suara, seperti perahu yang merapat di dermaga saat air laut sedang tenang.
Sampulnya abu, dengan ilustrasi perahu yang tampak kecil di tengah bentangan samudra.
Bagi Ipong Witono – Ketua Masyarakat Garis Depan Nusantara – buku itu lebih dari sekadar benda cetak.
Ia adalah potongan perjalanan panjang yang baru saja selesai berlayar.
Saat buku ini diserahkan, Ia menitipkan pesan seolah sedang membuka cerita lama.
“Buku ini ditulis oleh anak Bandung yang tidak memiliki tradisi bahari.” katanya diambang senja Bandung Utara belum lama ini.
Ia tersenyum tipis. Kalimat itu terdengar seperti ironi. Tetapi justru dari jarak itulah, kata Ipong, kerinduan terhadap laut tumbuh paling kuat.
Dan buku Analekta Tradisi Perahu Nusantara lahir dari kerinduan semacam itu—kerinduan untuk memahami kembali mengapa bangsa ini pernah begitu akrab dengan samudra, di mana saat ini laut seperti Rumah yang Terlupa.
Ia lalu menambahkan, buku itu bukan lahir dari kerja seorang dua orang.
Menurut Ipong, Analekta Tradisi Perahu Nusantara merupakan hasil kerja besar yang melibatkan banyak tangan dan pikiran.
“Buku ini lahir dari kerja kolaboratif tim, bersama lembaga dan berbagai unsur komunitas masyarakat. Ini bukan karya individu, melainkan hasil gotong royong panjang dari ekspedisi,” ujarnya.
Di balik proses penyusunan, ada satu nama yang ia sebut dengan nada penuh penghargaan: Donny Rachmansya.
“Donny berjasa menyusun buku ini dengan tekun, teliti, dan cermat, merangkai seluruh kontribusi tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara,” kata Ipong.

Ekspedisi di Garis Depan, Jejak di Dalam Buku
Selama lebih dari seribu hari, tim ekspedisi dari Wanadri bersama komunitas budaya Rumah Nusantara hidup dalam ritme laut.
Mereka menyusuri 92 pulau terdepan Indonesia dalam Ekspedisi Garis Depan Nusantara (2008–2010) menempuh perjalanan lebih dari 28 ribu kilometer.
Perjalanan itu bukan sekadar petualangan geografis. Ia perlahan berubah menjadi ziarah kebudayaan.
Di pulau-pulau kecil yang jauh dari pusat kota, mereka menemukan kenyataan yang sama: perahu bukan sekadar alat transportasi.
Ia adalah bagian dari kehidupan spiritual, sosial, dan bahkan kosmologis masyarakat.
Di Maluku, perahu dianggap memiliki “jiwa”.
Di Nusa Tenggara, bentuknya mengikuti simbol alam semesta.
Di Sulawesi, proses pembuatannya diiringi ritual seperti kelahiran manusia.
Perahu, kata Ipong, adalah “teks kebudayaan” yang selama ini jarang dibaca.
Teknologi yang Menyimpan Kepercayaan
Dalam buku itu, perahu digambarkan sebagai pertemuan antara teknologi dan kepercayaan.
Kayu yang dipilih tidak sembarangan.
Arah haluan mengikuti posisi bintang.
Ukiran lambung mengandung doa perlindungan.
Bahkan dalam tradisi tertentu, perahu dipercaya sebagai kendaraan arwah menuju dunia leluhur.
Penelusuran ekspedisi juga menunjukkan jejak lebih jauh: perahu Nusantara pernah membawa manusia melintasi samudra hingga Afrika Timur.
Bukti linguistik dan genetika menghubungkan masyarakat pesisir Indonesia dengan Madagaskar.
Jejak itu menunjukkan bahwa pelaut Nusantara pernah menjadi penjelajah global jauh sebelum era kolonial.

Sejarah yang Terkubur
Namun sejarah maritim itu perlahan menghilang. Selama masa penjajahan, dokumentasi tentang kapal dan perahu tradisional nyaris tidak dikembangkan.
Pengetahuan lokal dianggap tidak penting. Banyak catatan hilang atau tidak pernah ditulis.
Akibatnya, generasi modern mengenal laut sebagai batas wilayah—bukan sebagai ruang hidup.
Buku ini berusaha mengisi kekosongan itu. Ia menyusun kembali potongan sejarah dari catatan lapangan, foto ekspedisi, cerita lisan, hingga bukti arkeologis.
“Data yang kami bawa pulang terlalu berharga untuk disimpan,” kata Ipong. “Kami merasa punya kewajiban mengolahnya menjadi literasi.” katanya.
Jalur Laut yang Membentuk Nusantara
Buku tersebut juga menunjukkan bagaimana jalur laut pernah menjadi tulang punggung peradaban Nusantara.
Perahu menghubungkan pelabuhan dari Sumatra hingga Maluku. Ia membawa rempah, manusia, bahasa, dan gagasan.
Di pelabuhan-pelabuhan itu, pertemuan budaya terjadi tanpa sekat. Laut bukan pemisah. Ia adalah penghubung.
Dari pelayaran itulah tumbuh kota-kota pesisir, jaringan perdagangan, dan identitas multikultural yang menjadi ciri Nusantara hingga kini.
Melawan Lupa, Menulis Laut
Setelah ekspedisi berakhir, para anggotanya mendirikan komunitas Masyarakat Garis Depan Nusantara.
Salah satu misinya adalah mengolah data perjalanan menjadi karya literasi kebaharian.
Buku setebal 163 halaman ini menjadi salah satu hasilnya, diterbitkan dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Pelindo.
Bagi Ipong, upaya itu bukan sekadar proyek dokumentasi. Ia adalah usaha mengembalikan kesadaran kolektif bangsa.
“Kita sering menyebut Indonesia negara maritim,” ujarnya. “Tetapi kesadaran maritim itu sendiri perlahan hilang dari cara kita memandang sejarah.” imbuhnya.
Pulang ke Identitas
Menjelang akhir percakapan, Ipong menutup buku itu perlahan. Di luar ruangan, suara kendaraan kota terdengar biasa saja—jauh dari suasana laut yang menjadi ruh buku tersebut.
Ia terdiam sesaat, lalu berkata pelan, hampir seperti kesimpulan pribadi.
“Perahu adalah bukti bahwa nenek moyang kita tidak takut pada laut. Mereka menjadikannya rumah.” ujarnya.
Kalimat itu menggantung lama.
Seperti layar yang masih terbentang—menunggu angin ingatan kembali berembus.***






