Bandung BandungOke – Setahun kepemimpinan Muhammad Farhan di Kota Bandung menunjukkan akselerasi pembangunan infrastruktur yang relatif agresif.
Pemerintah kota menempatkan perbaikan fisik sebagai etalase utama kinerja: penerangan jalan, rehabilitasi ruas jalan, penataan kabel udara, hingga perbaikan rumah tidak layak huni.
Data resmi mencatat, sepanjang 2025 hingga awal 2026, sedikitnya 4.106 titik penerangan jalan lingkungan dibangun, 29,52 kilometer jalan diperbaiki, dan sekitar 23,5 kilometer kabel udara ditata di 47 lokasi.
Di sektor permukiman, sekitar 2.100 unit rutilahu tersentuh program bantuan.
Namun, pendekatan pembangunan yang berorientasi fisik ini memunculkan pertanyaan klasik tata kelola kota: sejauh mana keberlanjutan dan dampak strukturalnya terhadap persoalan urban yang lebih kompleks, seperti kemacetan kronis, ketimpangan kawasan, hingga daya dukung lingkungan.
Capaian kemantapan jalan yang mendekati 90 persen memang mencerminkan perbaikan kualitas mobilitas.
Tetapi pada saat yang sama, luas ruang terbuka hijau baru mencapai 12,56 persen—masih jauh dari amanat minimal 30 persen.
Ketimpangan ini menunjukkan bahwa orientasi pembangunan masih condong pada solusi jangka pendek ketimbang transformasi ekologis jangka panjang.
Revitalisasi taman dan pembangunan flyover Nurtanio menjadi simbol modernisasi kota. Namun, sejumlah pengamat tata kota menilai pembangunan infrastruktur tanpa penguatan transportasi publik terpadu berpotensi hanya memindahkan, bukan menyelesaikan, masalah mobilitas.
Pemerintah Kota Bandung sendiri menegaskan capaian ini sebagai bukti percepatan pembangunan.
Dalam keterangan resmi diskominfo Kota Bandung, disebutkan, “Berbagai capaian tersebut menjadi bukti konkret bahwa satu tahun kepemimpinan Wali Kota Muhammad Farhan telah menghadirkan percepatan pembangunan infrastruktur yang merata dan terukur.” Sabtu 14 Februari 2026.
Di titik ini, satu tahun pertama Farhan tampak sebagai fase konsolidasi fisik kota. Tantangan berikutnya jauh lebih kompleks: memastikan pembangunan tidak berhenti pada statistik proyek, melainkan menjawab problem struktural perkotaan secara berkelanjutan.***






