Bandung, BandungOke – Di ruang belajar sederhana di Sentra Wyata Guna, Kota Bandung.
Jari-jari Saefudin Fajar Putra bergerak perlahan menyusuri deretan titik kecil pada lembar Al-Qur’an Braille.
Setiap titik diraba hati-hati. Dari sanalah huruf-huruf hijaiyah dibaca.
Bagi Fajar (27), perjalanan memahami Al-Qur’an melalui huruf Braille bukan hal mudah. Ia baru mempelajarinya sekitar empat bulan terakhir.
Awalnya, ia bahkan tidak bisa mengenali huruf sama sekali.
Namun kesabaran dan latihan perlahan mengubah keadaan.
Instruktur Al-Qur’an Braille di Wyata Guna, Tine Gustini, menyaksikan langsung proses itu. Ia mengatakan Fajar termasuk siswa yang menunjukkan perkembangan pesat.
“Alhamdulillah sekarang Fajar sudah bisa baca tulis Al-Qur’an Braille. Barusan juga sudah dicoba membaca salah satu surat pendek,” kata Tine, Sabtu, 7 Maret 2026.
Proses belajar membaca Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas netra pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan metode umum.
Para siswa tetap memulai dari Iqra, mengenal huruf hijaiyah dan tanda baca sebelum akhirnya membaca mushaf Al-Qur’an Braille.
Perbedaannya terletak pada pendekatan pembelajaran.
Jika di sekolah umum metode yang digunakan bersifat klasikal, di kelas bagi siswa netra pendekatan lebih bersifat personal.
“Awalnya memang secara klasikal, tetapi setelah itu pembelajaran dilakukan satu per satu agar lebih fokus menyesuaikan kemampuan masing-masing siswa,” ujar Tine.
Perempuan itu telah mengajar Al-Qur’an Braille selama lebih dari dua dekade. Dalam rentang waktu tersebut, ia menghadapi berbagai tantangan—terutama saat mengajar siswa yang baru kehilangan penglihatan di usia dewasa.
“Tantangan terbesar biasanya pada kepekaan perabaan. Kalau sudah dewasa, kadang kepekaan jari untuk membaca Braille tidak sepeka yang sejak lahir. Karena itu banyak yang memilih menghafal. Tapi kalau mereka punya semangat tetap bisa belajar membaca,” ujarnya.
Dedikasi panjang itu tidak sia-sia. Sejumlah muridnya kini telah menjadi pengajar Al-Qur’an bagi sesama penyandang disabilitas netra.
“Paling mengharukan, banyak alumni dari Sentra Wyata Guna yang sekarang menjadi ustaz dan bahkan mengajar juga di sini. Mereka menjadi penerus kami,” kata Tine.
Bagi Fajar, tantangan terbesar muncul di awal proses belajar. Ia harus membiasakan jari mengenali pola titik-titik kecil yang mewakili huruf Arab dalam sistem Braille.
“Awal-awal paling susah mengenali hurufnya. Ini huruf apa, titiknya apa. Tapi kalau terus dilatih, lama-lama bisa,” kata Fajar.
Pelan-pelan ia mulai memahami perbedaan antara Braille Arab dan Braille Indonesia. Kini, Fajar telah mampu membaca dua juz dari Surah Al-Baqarah.
Kemampuan itu memberi kebahagiaan tersendiri.
“Dulu kalau lihat orang awas baca Al-Qur’an rasanya pengen juga bisa. Alhamdulillah sekarang sudah bisa membaca. Senang sekali,” ujarnya.
Fajar masih ingin terus belajar agar semakin lancar membaca Al-Qur’an. Ia juga membuka kemungkinan suatu hari berbagi ilmu dengan teman-teman sesama penyandang disabilitas netra.
“Kalau cita-cita, saya sebenarnya ingin jadi penyanyi. Tapi kalau bisa mengajar juga, saya ingin berbagi ilmu,” tuturnya.
Di ruang belajar itu, perjalanan Fajar masih panjang. Namun dari titik-titik kecil yang dirabanya, ia sedang membuka pintu menuju dunia yang selama ini hanya ia dengar: membaca sendiri kalam Ilahi.***






