Bandung, BandungOke – Di sebuah ruang galeri di kawasan Dago Giri, Bandung, warna-warna mencuat seperti mimpi yang belum selesai.
Di sanalah seniman Daniel Kho memamerkan kegelisahannya tentang manusia dan semesta melalui pameran tunggal bertajuk “djagHadq”.
Pameran yang digelar di ArtSociates Gallery Cafe sejak 6 Maret 2026 itu menampilkan rangkaian karya dua dimensi hingga tiga dimensi.
Di dalamnya terdapat lukisan akrilik dengan campuran serbuk marmer di atas kanvas, cetak tinggi pada serat daun, instalasi objek, hingga karya trimatra berbahan kayu.
Dalam sejumlah karya, Daniel juga mengolah inspirasi dari tradisi wayang kulit dan batik.
Daniel bukan nama asing dalam dunia seni rupa. Lahir di Klaten–Solo, Jawa Tengah, ia pernah lama tinggal dan berkarya di Eropa sebelum akhirnya menetap di Ubud, Bali.
Pengalaman lintas budaya itu tampak jelas dalam bentuk-bentuk visual yang eksperimental sekaligus simbolik dalam karya-karyanya.
Kurator sekaligus penulis pengantar katalog pameran, Bob Edrian, menjelaskan bahwa tajuk djagHadq dipilih Daniel untuk menggambarkan semesta yang penuh keunikan, keanehan, sekaligus kebebasan manusia dalam menghadapi masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dalam karya-karya itu, manusia digambarkan berada dalam situasi yang saling bertabrakan: saling tumpang tindih, bertolak belakang, bahkan saling menghancurkan.
Namun di permukaan, semuanya tampil dalam permainan warna yang tampak ceria dan memikat.
Pada pembukaan pameran, Daniel bahkan menghadirkan performance art berdurasi kurang dari satu menit. Ia membungkus jemari kaki kanannya dengan kantong plastik—sebuah simbol protes terhadap kondisi lingkungan, terutama masalah sampah plastik yang semakin menggunung di Bali.
“Manusia adalah makhluk yang paling goblok di bumi karena sifatnya yang suka merusak habitatnya sendiri. Bumi atau jagad ini harus kita pelihara dan jaga dengan baik. Sementara figur makhluk yg ada pada lukisan dan objek karya justru tidak brengsek. Karya saya justru ada pada posisi damai dan situasi perang saat ini menunjukkan puncak kegoblokan manusia,” tutur Daniel saat pembukaan pameran di Lawangwangi, Jumat (6/3).
Menurut Bob Edrian, mimpi menjadi pintu masuk untuk memahami dunia visual Daniel. Dalam proses kreatifnya, mimpi tidak sekadar imajinasi, melainkan ruang refleksi terhadap tindakan manusia di dunia nyata.
Melalui rangkaian karya di djagHadq, Daniel seakan menempatkan dirinya sebagai pengamat yang melihat manusia dari kejauhan. Dari sana ia mengamati, membongkar, lalu membentuk kembali figur-figur baru yang lahir dari perpaduan simbol budaya dan pengalaman panjangnya sebagai seniman.
“Objek atau figur yang ada pada objek adalah hasil eksperimentasi bentuk dan simbol dari budaya-budaya yang ada di bumi yang saya amati selama tiga puluh tahun. Ke depan memang akan produksi lebih banyak objek trimatra dengan material yang macam-macam. Ada yang dikembangkan dari lukisan atau sebaliknya,” ujar Daniel.
Melalui warna-warna yang berlapis dan bentuk yang kadang ganjil, Daniel seperti mengajak penonton memasuki semesta yang tidak sepenuhnya terang—tetapi juga tidak sepenuhnya gelap.
Sebuah jagad yang penuh pertanyaan tentang manusia, sekaligus tentang masa depan bumi yang mereka huni.***
Editor : Denny Surya





