BandungOKE
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam
  • Dengar Radio!Baru
No Result
View All Result
BandungOKE
No Result
View All Result

Di Tengah Krisis Guru Besar Nasional, UPI Justru Pecahkan Rekor Baru

Denny Surya
7 Mei 2026 - 13:38
Di Tengah Krisis Guru Besar Nasional, UPI Justru Pecahkan Rekor Baru



Bandung, BandungOke – Di tengah masih minimnya jumlah guru besar di Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia justru mencatat capaian yang cukup mencolok. Kampus pendidikan terbesar di Indonesia itu mengukuhkan 14 guru besar hanya dalam dua hari.

Sebanyak delapan guru besar dikukuhkan hari ini dan enam lainnya akan menyusul esok hari. Tambahan tersebut membuat jumlah profesor aktif di UPI mencapai 254 orang dari total 1.628 dosen atau sekitar 15,60 persen.

Angka itu jauh di atas rata-rata nasional. Rektor UPI Didi Sukyadi mengatakan, secara nasional jumlah guru besar di Indonesia masih berada di kisaran 2 hingga 3 persen dari total sekitar 340 ribu dosen.

RelatedPosts

Kolaborasi Telkom University–UI Menguat, Program Double Degree dan Exchange Disiapkan

UPI Naik Kelas di Ranking Nasional 2026, Ini Faktor Pendorongnya

Alarm Menkomdigi: Lulusan Harus Lawan Banjir Hoaks Digital

Padahal, kebutuhan ideal perguruan tinggi berada di angka 10 sampai 15 persen untuk memperkuat kapasitas riset, doktoral, dan tata kelola kampus.

“Ini hal yang luar biasa karena saat ini UPI sudah memiliki jumlah guru besar yang bisa dikatakan cukup ideal, 254 dari sekitar 1.600 dosen,” kata Didi Sukyadi dalam wawancara usai pengukuhan guru besar di Bandung. Kamis 7 Mei 2026

Fenomena langkanya profesor di Indonesia selama ini menjadi salah satu persoalan serius pendidikan tinggi nasional. Banyak perguruan tinggi masih kesulitan mengejar target profesor akibat panjangnya proses akademik, rendahnya produktivitas riset, hingga minimnya dukungan penelitian.

Di tengah kondisi itu, UPI mencoba mengambil jalur berbeda: mempercepat lahirnya profesor usia muda.

Didi menilai pola lama yang membuat dosen mengejar jabatan guru besar menjelang pensiun harus diubah. Menurut dia, produktivitas akademik justru akan lebih terasa bila profesor lahir pada usia yang lebih muda.

“Jadi kita dorong dari mulai dosen muda, kemudian mereka menjabat mulai asisten ahli, kemudian lektor, lektor kepala, dan nanti guru besar pun ya usianya masih muda. Sehingga produktivitasnya masih bisa kita rasakan,” ujarnya.

UPI bahkan memiliki Eka Cahya Prima yang disebut sebagai profesor termuda yang diakui MURI.

Guru Besar Bukan Sekadar Gelar

Didi mengatakan, bertambahnya jumlah guru besar bukan sekadar menaikkan angka statistik kampus. Keberadaan profesor dinilai sangat menentukan kualitas universitas, mulai dari pengajaran, penelitian, hingga reputasi internasional.

“Tentu bertambahnya jumlah guru besar ini akan memberikan dampak yang luar biasa. Pertama bagi UPI karena akan memperkuat Tri Dharma yang menjadi tugas pokok universitas, baik dari sisi pengajaran, kemudian riset, dan juga pengabdian kepada masyarakat,” kata dia.

Ia menambahkan, keberadaan profesor juga memperkuat posisi UPI dalam persaingan global, terutama pada pemeringkatan internasional seperti QS World University Rankings maupun Times Higher Education.

Namun yang paling penting, kata dia, adalah kontribusi nyata kepada masyarakat.

UPI kini memiliki sejumlah profesor yang fokus mengembangkan riset energi alternatif hingga pengolahan sampah. Salah satunya pengembangan sel surya ramah lingkungan yang dibuat dari material yang bisa didaur ulang dan tidak mencemari lingkungan.

“Ini tentu akan menjadi hal yang bermanfaat bukan hanya bagi dunia ilmu pengetahuan tetapi juga bagi semua masyarakat,” ujar Didi.

Persoalan sampah rumah tangga hingga krisis energi, menurut dia, membutuhkan pikiran-pikiran besar dari kalangan akademisi. Karena itu, keberadaan guru besar tidak boleh berhenti pada urusan publikasi ilmiah semata.

Didi juga mengingatkan bahwa profesor merupakan penopang utama universitas dalam membangun pengetahuan universal.

“Pengukuhan guru besar hari ini adalah penanda penting bagi Universitas Pendidikan Indonesia. Bukan hanya karena bertambahnya jumlah profesor, tetapi karena bertambahnya kekuatan intelektual yang akan menentukan arah pengembangan universitas ke depan,” katanya.

Di tengah target Indonesia membangun perguruan tinggi kelas dunia, kebutuhan terhadap guru besar diperkirakan akan terus meningkat. Kampus-kampus bukan hanya dituntut melahirkan profesor lebih banyak, tetapi juga profesor yang mampu menghasilkan riset berdampak langsung bagi masyarakat.***

 

Editor: Denny Surya
Tags: Didi Sukyadiguru besarKampus IndonesiaPendidikan Nasionalpendidikan tinggiProfesor Indonesiaqs world university rankingsRiset IndonesiaUniversitas Pendidikan IndonesiaUPI
Share220Tweet138Share55
ADVERTISEMENT

Trending

Menyusuri Jejak Masjid Agung Bandung, Dari Bale Nyungcung hingga Simbol Asia Afrika
Ragam

Menyusuri Jejak Masjid Agung Bandung, Dari Bale Nyungcung hingga Simbol Asia Afrika

5 menit ago
KA Sangkuriang Laris Manis, Sinyal Krisis Transportasi Murah Antarprovinsi?
Ekbis

KA Sangkuriang Laris Manis, Sinyal Krisis Transportasi Murah Antarprovinsi?

29 menit ago
Ratusan Warga Padati Sosialisasi MBG di Bojongsoang Kabupaten Bandung
Jawa Barat

Ratusan Warga Padati Sosialisasi MBG di Bojongsoang Kabupaten Bandung

4 jam ago
Di Tengah Krisis Guru Besar Nasional, UPI Justru Pecahkan Rekor Baru
Pendidikan

Di Tengah Krisis Guru Besar Nasional, UPI Justru Pecahkan Rekor Baru

6 jam ago
N219 Masuk Pasar Komersial Dalam Negeri, Senjata Baru Logistik Wilayah Terpencil
Ekbis

N219 Masuk Pasar Komersial Dalam Negeri, Senjata Baru Logistik Wilayah Terpencil

2 hari ago
  • Redaksi
  • About
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Dewan Pers
  • Advertise
  • Contact Us

No Result
View All Result
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam
  • Dengar Radio!