Bandung, BandungOke – Di tengah masih minimnya jumlah guru besar di Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia justru mencatat capaian yang cukup mencolok. Kampus pendidikan terbesar di Indonesia itu mengukuhkan 14 guru besar hanya dalam dua hari.
Sebanyak delapan guru besar dikukuhkan hari ini dan enam lainnya akan menyusul esok hari. Tambahan tersebut membuat jumlah profesor aktif di UPI mencapai 254 orang dari total 1.628 dosen atau sekitar 15,60 persen.
Angka itu jauh di atas rata-rata nasional. Rektor UPI Didi Sukyadi mengatakan, secara nasional jumlah guru besar di Indonesia masih berada di kisaran 2 hingga 3 persen dari total sekitar 340 ribu dosen.
Padahal, kebutuhan ideal perguruan tinggi berada di angka 10 sampai 15 persen untuk memperkuat kapasitas riset, doktoral, dan tata kelola kampus.
“Ini hal yang luar biasa karena saat ini UPI sudah memiliki jumlah guru besar yang bisa dikatakan cukup ideal, 254 dari sekitar 1.600 dosen,” kata Didi Sukyadi dalam wawancara usai pengukuhan guru besar di Bandung. Kamis 7 Mei 2026
Fenomena langkanya profesor di Indonesia selama ini menjadi salah satu persoalan serius pendidikan tinggi nasional. Banyak perguruan tinggi masih kesulitan mengejar target profesor akibat panjangnya proses akademik, rendahnya produktivitas riset, hingga minimnya dukungan penelitian.
Di tengah kondisi itu, UPI mencoba mengambil jalur berbeda: mempercepat lahirnya profesor usia muda.
Didi menilai pola lama yang membuat dosen mengejar jabatan guru besar menjelang pensiun harus diubah. Menurut dia, produktivitas akademik justru akan lebih terasa bila profesor lahir pada usia yang lebih muda.
“Jadi kita dorong dari mulai dosen muda, kemudian mereka menjabat mulai asisten ahli, kemudian lektor, lektor kepala, dan nanti guru besar pun ya usianya masih muda. Sehingga produktivitasnya masih bisa kita rasakan,” ujarnya.
UPI bahkan memiliki Eka Cahya Prima yang disebut sebagai profesor termuda yang diakui MURI.
Guru Besar Bukan Sekadar Gelar
Didi mengatakan, bertambahnya jumlah guru besar bukan sekadar menaikkan angka statistik kampus. Keberadaan profesor dinilai sangat menentukan kualitas universitas, mulai dari pengajaran, penelitian, hingga reputasi internasional.
“Tentu bertambahnya jumlah guru besar ini akan memberikan dampak yang luar biasa. Pertama bagi UPI karena akan memperkuat Tri Dharma yang menjadi tugas pokok universitas, baik dari sisi pengajaran, kemudian riset, dan juga pengabdian kepada masyarakat,” kata dia.
Ia menambahkan, keberadaan profesor juga memperkuat posisi UPI dalam persaingan global, terutama pada pemeringkatan internasional seperti QS World University Rankings maupun Times Higher Education.
Namun yang paling penting, kata dia, adalah kontribusi nyata kepada masyarakat.
UPI kini memiliki sejumlah profesor yang fokus mengembangkan riset energi alternatif hingga pengolahan sampah. Salah satunya pengembangan sel surya ramah lingkungan yang dibuat dari material yang bisa didaur ulang dan tidak mencemari lingkungan.
“Ini tentu akan menjadi hal yang bermanfaat bukan hanya bagi dunia ilmu pengetahuan tetapi juga bagi semua masyarakat,” ujar Didi.
Persoalan sampah rumah tangga hingga krisis energi, menurut dia, membutuhkan pikiran-pikiran besar dari kalangan akademisi. Karena itu, keberadaan guru besar tidak boleh berhenti pada urusan publikasi ilmiah semata.
Didi juga mengingatkan bahwa profesor merupakan penopang utama universitas dalam membangun pengetahuan universal.
“Pengukuhan guru besar hari ini adalah penanda penting bagi Universitas Pendidikan Indonesia. Bukan hanya karena bertambahnya jumlah profesor, tetapi karena bertambahnya kekuatan intelektual yang akan menentukan arah pengembangan universitas ke depan,” katanya.
Di tengah target Indonesia membangun perguruan tinggi kelas dunia, kebutuhan terhadap guru besar diperkirakan akan terus meningkat. Kampus-kampus bukan hanya dituntut melahirkan profesor lebih banyak, tetapi juga profesor yang mampu menghasilkan riset berdampak langsung bagi masyarakat.***





