Purwakarta, BandungOke — Di Gedung Al Khairiyah, Ciseureuh, Purwakarta, Jumat (27/2), anggota Komisi IX DPR RI, Cellica Nurrachadiana, berbicara dengan nada yang lebih menyerupai seorang ibu ketimbang politisi.
Di hadapan warga, ia menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar agenda seremonial pemerintah, melainkan bagian dari visi besar menuju Indonesia Emas 2045.
Bagi Cellica, program ini adalah fondasi. “Program Makan Bergizi Gratis ini bukan hanya soal memberikan makanan kepada anak-anak, tetapi bagaimana kita memastikan generasi penerus bangsa mendapatkan asupan gizi yang cukup sejak dini. Ini investasi jangka panjang untuk masa depan Indonesia,” ujarnya.
Program MBG merupakan salah satu prioritas nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan isu gizi sebagai pilar pembangunan sumber daya manusia.
Dalam perspektif Cellica, investasi terbesar bangsa bukan pada infrastruktur beton, melainkan pada kualitas anak-anaknya.
Gizi dan Ekonomi Berjalan Beriringan
Sebagai anggota Komisi IX yang membidangi kesehatan dan ketenagakerjaan, Cellica melihat MBG tidak berhenti pada urusan perut anak sekolah. Ia menyoroti dampak berantai program ini terhadap ekonomi lokal.
“Artinya apa? Ini menggerakkan roda perekonomian UMKM. Kalau semua bisa kita berdayakan, insyaallah roda ekonomi bergerak, dan pengangguran sedikit demi sedikit bisa teratasi,” tegasnya.
Dalam skema MBG, dapur-dapur penyedia makanan melibatkan pelaku usaha kecil, pemasok bahan pangan lokal, hingga tenaga kerja setempat.
Di Purwakarta, Cellica berharap rantai ekonomi itu tumbuh organik dan berkelanjutan.
Antara Harapan dan Hoaks
Namun ia tak menutup mata terhadap sejumlah keluhan dan narasi negatif yang beredar. Menurutnya, sebagian kritik muncul karena kurangnya informasi yang utuh di masyarakat.
“Nanti kita akan buat layanan aduan khusus. Kalau ada laporan, tim harus cek langsung. Jangan sampai kita termakan hoaks.
Kalau masih bisa kita benarkan, kita luruskan bersama. Jangan sampai program yang baik justru terlihat tidak baik karena ulah segelintir oknum,” katanya.
Bagi Cellica, pengawasan publik adalah kunci. Transparansi, kata dia, harus berjalan beriringan dengan implementasi program.
Ia mendorong masyarakat tak ragu menyampaikan laporan jika menemukan kejanggalan.
Kolaborasi Jadi Penentu
Sosialisasi yang digelar bersama mitra kerja Badan Gizi Nasional itu menjadi ruang dialog antara wakil rakyat dan warga.
Cellica menegaskan, keberhasilan MBG tak bisa dibebankan hanya pada pemerintah pusat.
“Keberhasilan program ini membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak,” ujarnya.
Di Purwakarta, harapan itu disematkan pada satu gagasan sederhana: memastikan anak-anak tumbuh sehat hari ini agar Indonesia memiliki generasi produktif esok hari.
Bagi Cellica, MBG bukan sekadar program makan gratis, melainkan upaya merawat masa depan bangsa—dimulai dari satu piring bergizi.***





