Garut, BandungOke — Suasana Pendopo Kabupaten Garut, Kamis, 23 April 2026, terasa berbeda. Bukan hanya karena deretan seragam warna-warni para peserta, tetapi juga lantunan suara yang saling bersahutan, membentuk harmoni khas Sunda. Di ruang itu, para perempuan dari berbagai daerah di Priangan berkumpul—bukan sekadar berlomba, tapi merawat ingatan kolektif tentang budaya.
Lomba paduan suara “Puspa Swara Wanoja Sunda” Wilayah IV yang digelar TP PKK Provinsi Jawa Barat menjadi ruang perjumpaan itu. Pesertanya datang dari beragam latar—TP PKK, Bhayangkari, Persit, hingga PGRI—namun dipersatukan oleh satu hal: kecintaan pada budaya Sunda.
Ketua TP PKK Jawa Barat, dr. Siska Gerfianti, melihat kegiatan ini sebagai cara sederhana tapi kuat untuk menjaga warisan budaya tetap hidup.
“Ya, hari ini kita adalah rangkaian Puspa Swara Wanoja Sunda, itu adalah Pasanggiri Paduan Suara se-Jawa Barat di bawah asuhan TP PKK Jawa Barat, yang juga mengajak seluruh PKK Kabupaten/Kota, Bhayangkari, Persit, dan PGRI. Kenapa? Karena kita harus melestarikan budaya Sunda dan dalam rangka menuju Hari Jadi Tatar Sunda nanti di tanggal 18 Mei 2026,” ujar Siska dalam keterangan persnya, Jum’at 24 April 2026.
Lomba ini tak berdiri sendiri. Ia bagian dari perjalanan panjang yang menyambangi lima wilayah di Jawa Barat—dari Bogor, Purwakarta, Cirebon, hingga kini Garut dan Priangan—sebelum berlabuh di Bandung Raya.
Di Garut, sebanyak 14 tim dari enam daerah tampil bergantian. Ada yang datang dengan persiapan matang, ada pula yang membawa semangat kebersamaan sebagai modal utama. Tuan rumah bahkan menurunkan empat tim sekaligus, mencerminkan antusiasme yang tak setengah-setengah.
Siska mengaku tak mudah menilai penampilan mereka. Baginya, setiap kelompok membawa warna dan cerita sendiri.
“Aduh pokoknya mah ya untung saya tidak jadi juri ya. Kalau saya jadi juri kelihatannya saya sudah aduh, ngejedugkeun jiga domba saya. Jadi hari ini memang juri-jurinya itu juri profesional gitu ya,” katanya, setengah bercanda.
Di balik panggung, ada kerja panjang yang tak terlihat—latihan berulang, pengorbanan waktu, hingga biaya yang tak sedikit. Ketua TP PKK Kabupaten Garut, Tinneke Hermina, menyebut itu semua terbayar oleh semangat para peserta.
Lebih dari sekadar lomba, hari itu juga menjadi ruang berbagi. Warga datang untuk memeriksa kesehatan, menerima kacamata gratis, hingga mendapatkan Al-Qur’an braille. Di sudut lain, pelaku UMKM memamerkan produk mereka, dari olahan pangan hingga kerajinan khas.
Bagi Siska, inilah wajah kegiatan yang diharapkan: budaya yang hidup berdampingan dengan kepedulian sosial.
“Pokoknya mah Garut luar biasa. Jangan lupa ke Garut kalau mau beli tas kulit dan dorokdok di Sukaregang,” ujarnya.
Di tengah harmoni suara dan riuh tepuk tangan, satu hal terasa jelas: perempuan bukan hanya peserta, tetapi penjaga yang sabar merawat budaya—agar tetap terdengar, dari satu generasi ke generasi berikutnya.***





