Bandung, BandungOke – Senja turun pelan di kawasan Jalan Asia Afrika Bandung.
Lampu-lampu kota memantul di dinding lengkung Hotel Savoy Homann, seolah menghidupkan kembali bayang-bayang masa lalu.
Di balik pintu-pintu kamarnya, sejarah pernah berdenyut—lirih, tapi menentukan arah dunia.
Di kamar 244, waktu seperti pernah berhenti sejenak. Di sanalah Presiden RI Pertama Soekarno bermalam, di tengah hiruk-pikuk Konferensi Asia Afrika yang mengguncang peta politik global.
Sementara di kamar 144 dan 344, nama-nama besar dunia menanggalkan gelar kebesarannya untuk sekadar beristirahat: Jawaharlal Nehru, U Nu, Zhou Enlai, Norodom Sihanouk, hingga Gamal Abdel Nasser.
Mereka datang dari dunia yang berbeda, membawa luka kolonial yang serupa. Dan di hotel ini, sebelum pidato-pidato besar dan keputusan-keputusan bersejarah, ada jeda manusiawi: percakapan ringan, langkah kaki di koridor, dan malam-malam panjang penuh pertimbangan.
Namun, tak semua sejarah berakhir selamat.
Ada masa ketika bangunan tua Bandung dianggap usang. Rencana perombakan kota mengarah pada penghapusan jejak-jejak lama—diganti gedung-gedung modern yang seragam, berlogo global. Savoy Homann hampir menjadi korban dari ambisi itu.
Di titik itulah, keputusan sederhana tapi menentukan diambil.
“Ada masalah sejarah, renovasi, dan lain sebagainya. Saya bisa bicara 2-3 jam, tapi 5 menit tidak mungkin saya bisa lengkapi apa yang saya mau sampaikan,” kata Mrs. Frances penggiat Bandung Heritage. Senin 27 April 2026 kepada para awak media.
Frances mengenang ini adalah gedung (Hotel) yang saya tahu Bung Karno selamatkan. Sebab waktu itu mereka memang mau memusnahkan gedung-gedung tua dan membangun yang Hyatt, atau Hilton, atau Sheraton.
“Dan Bung Karno bilang tidak tidak, kita harus menyelamatkannya,” tegasnya.
Kalimat itu seperti menambatkan ingatan pada satu momen: ketika masa depan hampir menghapus masa lalu—dan seseorang menolak.
“Jadi sekarang gedung ini selamat, saya pikir abadi. Saya rasa tidak akan ada yang berani menyentuhnya sekarang. Dan itu satu hadiah yang saya… yang saya sangat bangga.” katanya.
Sejak itu, hotel ini bukan sekadar bangunan. Ia menjelma menjadi ingatan kolektif—tentang Bandung yang pernah menjadi pusat dunia, tentang orang-orang biasa yang tiba-tiba berdiri di pusaran sejarah.

Namun waktu tak pernah benar-benar berhenti. Di dalam Savoy Homann, perubahan tetap berjalan—pelan, tapi pasti.
“Banyak, cukup banyak. Maksud saya, kita harus mengikuti perkembangan, kan? Kita harus mengelola, kita harus mencari uang. Dan jadi kita harus bikin sesuatu yang setiap… kita harus siap setiap saat untuk dibikin sesuatu yang disukai oleh tamu supaya kita bisa mendapatkan pendapatan yang cukup untuk mengelola bagian dalam. Tapi sangat penting bagi kita untuk mengingat sejarah ini, apalagi sebagai orang Bandung.” katanya.
Bagi Frances, sejarah bukan benda mati. Ia hidup—dan harus dirawat, bukan hanya oleh pengelola, tetapi juga oleh warga kota.
“Saya tahu Wali Kota Farhan sekarang mau merayakan KAA dan menjadikan Ibu Kota KAA, Ibu Kota Asia Afrika. Dan memang ini salah satu marka tanah yang sangat penting… Tapi saya juga sebagai masyarakat Bandung ingin kalian sebagai generasi muda untuk menangkap visi ini… Karena itu semua adalah cerita tentang orang Bandung…” tuturnya.
Di luar hotel, suara itu menemukan gaungnya.
Sementara itu komunitas Tatali, Sulhan Syafei melihat KAA bukan sekadar peristiwa lampau, tetapi titik nyala yang masih menyala hingga kini.
“Kita Tatali itu melakukan program peringatan hari ulang tahun KAA ke-71. Kenapa kita harus melakukan? Karena ini pentingnya bagi kita warga biasa lah. Jadi kita mengusulkan itu, bekerja sama dengan Bandung Heritage, kemudian kita mengunjungi Savoy Homann.” katanya.
Baginya, Bandung bukan sekadar kota—melainkan simbol.
“Karena ini peristiwa yang penting. Karena setelah Konferensi Asia Afrika itu, puluhan negara di Asia dan Afrika itu merdeka. Jadi dari situlah titik sebenarnya ketika Bandung menjadi mercusuar untuk semua negara atau banyak negara di dunia ini merdeka.” tegas Sulhan.
Maka setiap Bulan April, kota ini seperti mengulang napasnya. Tidak lagi dengan parade pemimpin dunia, tetapi dengan langkah-langkah warga yang mencoba mengingat.
Di trotoar Jalan Asia Afrika di depan Savoy Homann, orang-orang mungkin hanya lewat. Tapi di balik dindingnya, sejarah masih tinggal—diam, menunggu untuk terus diceritakan.
Dan selama cerita itu masih diingat, Savoy Homann tidak akan pernah benar-benar menjadi masa lalu.***





