Bandung, BandungOke — Di balik lengkung fasad bergaya Art Deco yang menyerupai ombak beku, Hotel Savoy Homann menyimpan jejak yang lebih sunyi—sebuah rumah keluarga asal Jerman yang tak pernah benar-benar hilang dari sejarahnya.
Di sanalah, jauh sebelum hotel ini menjadi saksi peristiwa dunia, cerita dimulai.
Bangunan itu bermula pada 1870. Bukan hotel. Bukan pula tempat pertemuan para kepala negara. Melainkan rumah keluarga Homann—sebuah hunian sederhana yang berdiri di bagian belakang area yang kini menjadi kompleks hotel.
Jejaknya masih ada, tersembunyi dari pandangan fasad depan yang megah.
“Jadi kalau dilihat dari sejarahnya, hotel ini memang awalnya itu adalah rumah dari keluarga Homann itu di tahun 1870 yang memang bangunannya belum menjadi seperti bangunan yang ikonik seperti sekarang,” ujar Yuke Yulianti Andari, Marketing Communication Manager Hotel Savoy Homann Bandung, Senin 27 April 2026.
Rumah itu, kata Yuke, bukan sekadar titik awal, tetapi fondasi identitas. Dari ruang privat keluarga Eropa di tanah Priangan, perlahan berubah menjadi ruang publik yang menyerap denyut zaman.

Namun kisah Homann tak melulu soal bangunan. Ada cerita yang nyaris seperti dongeng, tetapi hidup dalam ingatan lama: seekor burung beo milik keluarga Homann.
Burung itu konon menjadi “penyambut pertama” bagi tamu yang datang. Dengan suara nyaring dan kecerdasan khasnya, ia menyapa setiap orang yang melangkah masuk.
Sebuah gestur sederhana, tetapi membekas—menciptakan pengalaman personal jauh sebelum konsep hospitality modern dikenal.
Di titik itulah, keramahan menjadi tradisi. Bahkan sebelum hotel ini berdiri sebagai institusi.
Transformasi besar terjadi pada akhir 1930-an. Arsitek Belanda, A.F. Albers, merancang ulang bangunan dengan gaya Streamline Art Deco—gaya futuristik pada masanya. Lengkungan dinamis, garis horizontal, dan kesan “bergerak” menjadikan Savoy Homann bukan sekadar hotel, melainkan simbol modernitas kolonial.
Namun, di balik kemegahan itu, rumah keluarga Homann tetap menjadi ruh yang tak tergantikan.
“Untuk saat ini rumah keluarga Homann itu ada letaknya ada di area belakang hotel yang di mana bukan fasad area eksterior depannya sebetulnya,” kata Yuke.
Sejarah kemudian mencatat babak penting pada 1955. Hotel ini menjadi tempat menginap para delegasi Konferensi Asia Afrika. Dari Presiden Soekarno hingga Jawaharlal Nehru dan Zhou Enlai—semua pernah melangkah di lorong yang sama.
Namun, bahkan ketika dunia datang dan pergi, jejak rumah keluarga itu tetap diam di belakang, menjadi saksi yang tak banyak bicara.
Savoy Homann hari ini adalah perpaduan lapisan waktu. Ada Art Deco yang memesona, ada kisah diplomasi global, dan ada cerita kecil tentang rumah keluarga—lengkap dengan burung beo yang pernah menyapa tamu.
Di kota yang terus berubah, hotel ini tidak sekadar bertahan. Ia akan terus mengingat, namun entah sampai kapan?***





