Bandung, BandungOke – Lonjakan penumpang KA Sangkuriang relasi Bandung–Ketapang dalam sepekan pertama operasional bukan sekadar kabar baik bagi PT KAI.
Angka okupansi yang menembus rata-rata 200,5 persen justru memperlihatkan satu hal yang lebih besar: tingginya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi antardaerah yang murah, terhubung, dan tepat waktu—sesuatu yang selama ini belum sepenuhnya terjawab.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 2 Bandung mencatat, sejak resmi beroperasi pada 1 Mei 2026, KA Sangkuriang telah mengangkut 6.399 pelanggan hanya dalam tujuh hari. Rata-rata, ada 914 penumpang per hari menggunakan layanan tersebut.
Angka itu menjadi menarik ketika dibandingkan dengan kapasitas kursi yang tersedia, yakni hanya 456 tempat duduk per hari. Artinya, terjadi perputaran penumpang yang sangat tinggi di berbagai stasiun sepanjang lintasan Bandung hingga Ketapang, Banyuwangi.
Manager Humasda KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo, menyebut tingginya minat masyarakat menjadi indikator bahwa KA Sangkuriang menjawab kebutuhan mobilitas lintas wilayah.
“Sejak mulai dioperasikan, KA Sangkuriang mendapatkan sambutan yang sangat positif dari masyarakat. Selama satu minggu operasional, tercatat sebanyak 6.399 pelanggan telah menggunakan layanan ini dengan rata-rata harian mencapai 914 pelanggan,” ujar Kuswardojo. Dalam keterangan persnya, Kamis 7 Mei 2026.
Namun di balik tingginya antusiasme itu, ada persoalan yang selama ini kerap luput dibahas: keterbatasan konektivitas murah dari Jawa Barat menuju Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Selama bertahun-tahun, masyarakat kelas menengah dan pekerja informal masih bergantung pada bus antarkota dengan waktu tempuh panjang, kualitas layanan yang tak selalu konsisten, serta biaya perjalanan yang fluktuatif.
Kehadiran KA Sangkuriang praktis membuka jalur alternatif yang lebih stabil dari sisi harga maupun ketepatan waktu.
Apalagi relasi Bandung–Ketapang bukan rute pendek. Jalur ini menghubungkan pusat ekonomi dan pendidikan di Jawa Barat dengan kota-kota transit penting di Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga ujung timur Pulau Jawa.
Bagi banyak penumpang, kereta ini bukan sekadar moda transportasi, melainkan jalur ekonomi baru.
“Tingginya angka okupansi tersebut menunjukkan adanya pergerakan penumpang dinamis pada berbagai relasi dan stasiun pemberhentian sepanjang perjalanan KA,” kata Kuswardojo.
Fenomena okupansi di atas 200 persen juga memperlihatkan pola mobilitas masyarakat yang semakin cair. Penumpang tidak lagi didominasi perjalanan penuh dari titik awal ke akhir, tetapi naik-turun di berbagai kota penghubung. Kondisi ini memperkuat posisi kereta api sebagai tulang punggung konektivitas regional di Pulau Jawa.
Di sisi lain, tingginya keterisian juga menjadi alarm bagi KAI. Jika lonjakan penumpang terus terjadi, kebutuhan penambahan rangkaian, frekuensi perjalanan, hingga optimalisasi jadwal akan sulit dihindari.
KAI sendiri menilai KA Sangkuriang menjadi salah satu layanan strategis yang mampu menghubungkan wilayah secara lebih efisien.
“Kehadiran KA Sangkuriang menjadi alternatif transportasi yang diminati masyarakat karena menawarkan perjalanan yang aman, nyaman, tepat waktu, serta menghubungkan berbagai daerah di Pulau Jawa,” tambah Kuswardojo.
Tak hanya soal mobilitas, jalur Bandung–Ketapang juga berpotensi mendorong pergerakan sektor wisata dan ekonomi lokal. Ketapang selama ini dikenal sebagai gerbang utama menuju Bali via Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Artinya, jalur ini dapat menjadi opsi perjalanan darat yang lebih murah bagi wisatawan domestik.
Di tengah harga tiket pesawat yang masih fluktuatif dan biaya perjalanan darat yang terus naik, kereta api kembali menemukan momentumnya sebagai transportasi massal yang paling realistis bagi masyarakat.
KAI Daop 2 Bandung memastikan evaluasi layanan akan terus dilakukan seiring tingginya minat masyarakat terhadap KA Sangkuriang.
“KAI Daop 2 Bandung mengucapkan terima kasih atas kepercayaan masyarakat yang telah memilih KA Sangkuriang sebagai moda transportasi perjalanan. Tingginya antusiasme ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan kepada seluruh pelanggan,” tutup Kuswardojo.***





