Bandung, BandungOke – Penurunan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bandung tak membuat Wali Kota Muhammad Farhan lengah.
Ia justru mewanti-wanti potensi lonjakan penyakit dan krisis lingkungan jika kewaspadaan warga mengendur—terutama soal sampah.
Pesan itu disampaikan Farhan dalam kegiatan Siskamling Siaga Bencana di Kelurahan Balonggede, Kecamatan Regol, Kamis, 8 Januari 2026. Menurutnya, forum kewilayahan bukan sekadar formalitas, melainkan alat membaca masalah riil kota.
“Saya ingin dengar langsung dari RW. Yang bisa langsung dieksekusi, kita kerjakan sekarang. Yang perlu pendalaman, besok saya survei lagi,” ujarnya. Dikutip Jumat (9/1)
Farhan mengingatkan, meski dalam setahun terakhir tak ada kematian akibat DBD, penyakit ini bersifat siklikal dan kerap meningkat di awal tahun. Pencegahan, kata dia, bertumpu pada perilaku warga.
“Kalau demam tinggi mendadak dan sulit turun, jangan tunggu parah. Segera ke puskesmas,” katanya.
Di luar isu kesehatan, Farhan menyinggung persoalan keamanan lingkungan—mulai dari minimnya penerangan jalan hingga pohon besar yang rawan dimanfaatkan pelaku kejahatan. Ia meminta organisasi perangkat daerah segera turun tangan, meski mengakui ada dilema antara menjaga ruang hijau dan rasa aman.
“Aturannya harus kita patuhi, tapi warga juga harus merasa aman. Kita cari solusinya,” ujarnya.
Sorotan paling keras justru diarahkan pada persoalan sampah. Farhan menyebut, tanpa perubahan pola pengelolaan, krisis bisa terjadi kapan saja. Ia mendorong RW menjalankan program Gaslah dan memastikan sampah organik selesai di hari yang sama.
“Sampah hari ini harus habis hari ini. Jangan ditumpuk, jangan dikubur, itu melanggar hukum,” katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan penanganan masalah kota tak bisa hanya dibebankan pada pemerintah.
“Solusinya bukan saling menyalahkan, tapi kerja bareng. Pemerintah hadir, warga ikut bergerak,” pungkas Farhan.***






