Bandung, BandungOke – Di layar virtual itu, suara Ignasius Jonan terdengar tenang, nyaris seperti seorang guru yang sedang berbicara kepada muridnya.
Bukan pidato kemenangan, melainkan refleksi seorang pemimpin yang melihat perjalanan hidupnya dari jarak waktu.
“Saya merasa terharu bahwa SBM ITB memberikan suatu penghargaan yang sebenarnya saya kira saya tidak terlalu layak untuk menerima,” katanya saat menerima Lifetime Achievement dari SBM ITB pada Dies Natalis ke-22, Rabu, 11 Februari 2026.
Namun, alih-alih membicarakan prestasi, Jonan justru mengajak hadirin merenung tentang makna kepemimpinan.
Ia memulai dari pesan yang sederhana: menjadi diri sendiri.
Bagi Jonan, pemimpin boleh belajar dari tokoh besar, tetapi tidak boleh menjadi tiruan.
Kepemimpinan, katanya, harus lahir dari nilai personal dan kejujuran terhadap diri sendiri.
Pesan berikutnya menyentuh sisi yang lebih dalam yakni manfaat bagi orang lain. Ia menilai, karier yang tinggi tidak berarti apa-apa jika tidak menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Jonan lalu bercerita tentang tiga modal kepemimpinan yakni talenta, pendidikan, dan pengalaman hidup.
Pendidikan memberi kerangka berpikir. Pengalaman membentuk ketangguhan. Talenta menjadi potensi yang harus diasah.
Tetapi pada akhirnya, ia menegaskan, semua itu tidak cukup tanpa teladan.
Ia mengingat kembali masa transformasi PT Kereta Api Indonesia. Lebih dari satu dekade setelah ia pergi, perusahaan itu terus berkembang.
“Kenapa Kereta Api setelah saya pergi 12 tahun yang lalu sampai hari ini tetap berkembang? Memimpin itu caranya cuma satu, yaitu memberikan contoh, leading by example,” ujarnya.
Di situlah pesan Jonan terasa paling kuat: jabatan akan berlalu, tetapi keteladanan bisa bertahan jauh lebih lama.
Di hadapan mahasiswa, ia menutup dengan harapan sederhana: jadilah pemimpin yang tidak hanya pintar mengatur, tetapi berani hidup sesuai nilai yang diyakini.***






