Bandung, BandungOke – Suasana perayaan Dies Natalis ke-22 Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB di Bandung terasa berbeda.
Tidak sekadar peringatan usia, melainkan refleksi arah masa depan pendidikan bisnis.
Di tengah rangkaian acara, Dekan SBM ITB Aurik Gustomo menyampaikan sebuah pernyataan yang menjadi semacam penanda perubahan.
“SBM ITB tidak boleh hanya berbicara tentang menghasilkan lulusan. Kami harus memberi kontribusi di level nasional maupun internasional melalui riset dan inovasi yang semakin berdampak dalam lima tahun ke depan,” ujarnya. Di kutip dari keterangan persnya, Jum’at (13/2/2026)
Kalimat itu menggambarkan transformasi peran kampus bisnis: dari sekadar pusat pendidikan menjadi penggerak perubahan sosial dan ekonomi.
Tema Entrepreneurial Business yang diluncurkan sebagai thought leadership memperlihatkan arah tersebut.
Fokusnya bukan hanya mencetak wirausaha, melainkan membangun solusi nyata bagi persoalan Indonesia.
Diskusi Knowledge Management Forum menegaskan hal yang sama. Pendidikan bisnis, kini, harus selaras dengan prinsip keberlanjutan: lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Semangat itu tampak nyata dalam Pameran Societal Impact. UMKM dan startup binaan kampus hadir dengan inovasi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Puncak acara ditandai dengan Anugerah Avirama Nawasena kepada korporasi seperti PT Astra International dan Bank Mandiri, serta penghargaan Lifetime Achievement kepada Ignasius Jonan.
Wakil Rektor Institut Teknologi Bandung Andryanto Rikrik Kusmara menyebut penghargaan ini sebagai tradisi penting untuk merawat nilai.
“Inisiatif seperti Anugerah Avirama Nawasena perlu menjadi tradisi di ITB sebagai bentuk pengakuan atas tokoh-tokoh yang telah menunjukkan komitmen dan konsistensi menciptakan dampak nyata,” katanya.
Di usia ke-22, SBM ITB tampak ingin menegaskan identitasnya: bukan hanya sekolah bisnis, tetapi ruang lahirnya kepemimpinan yang memberi arti bagi masyarakat.***






