Bandung, BandungOke — Di balik kandang-kandang yang tetap terisi, ada tangan-tangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Mereka datang setiap hari, memberi makan, membersihkan, merawat—bahkan saat upah tak lagi pasti.
Di Bandung Zoo, kesetiaan itu tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bandung, Andri Gunawan, melihat langsung keteguhan itu.
Baginya, karyawan lama Bandung Zoo bukan sekadar pekerja, melainkan penjaga terakhir yang memastikan kehidupan di dalam kebun binatang tetap berjalan saat semuanya serba tak menentu.
Saat penyerahan bantuan ekstra fooding dan pembayaran tunggakan BPJS Ketenagakerjaan oleh jajaran PDI Perjuangan Jawa Barat, Rabu, 29 April 2026, Andri menyampaikan satu pesan yang terasa sederhana, tapi mendesak: jangan singkirkan mereka yang sudah bertahan.
“Pemkot rencananya akan umumkan pemenang pengelola tanggal 5 Mei, (tentu) kami menyambut baik supaya karyawan di sini segera memiliki kepastian, satwanya juga terurus dengan baik,” kata Andri.
Pesan dari kami adalah karyawan-karyawan kebun binatang lama tolong dipertahankan.
“Mereka sudah teruji dan terbukti kinerjanya bagus dalam merawat tempat ini ketika dalam masa transisi, tidak ada pengelola yang formal, teman-teman ini bahkan berani untuk bekerja tanpa gaji, nombok seberapa beberapa bulan mau bekerja,” kata Andri.
Kalimat itu seperti membuka sisi lain dari krisis yang selama ini hanya terlihat dari luar. Di dalam, para karyawan tetap memilih tinggal. Bukan karena tak punya pilihan, tetapi karena merasa bertanggung jawab pada makhluk hidup yang mereka rawat setiap hari.
Andri menyebut, apa yang dilakukan para pekerja itu sudah melampaui batas pekerjaan biasa.
“Mereka ini sudah beberapa bulan terakhir dalam situasi yang gonjang-ganjing masih mau ngurus kebun binatang, malah saya bilang bukan bekerja tapi mengabdi,” ujarnya.
Pengorbanan itu juga terasa dari sisi penghasilan. Sebagian karyawan, terutama di level manajemen, pernah menerima gaji Rp7 juta hingga Rp8 juta. Namun dalam masa krisis, mereka rela menerima jauh lebih rendah—bahkan sempat tanpa bayaran.
“Dan saya informasikan juga, ini karyawan-karyawan kebun binatang ini dalam level manajemen tertentu gajinya kurang. Kan kita tahu ya sekarang gajinya sudah dibayarin sama Pemkot, 4,7 juta rata semua karyawan, 130 lebih ya Pak Rohman ya?” kata Andri.
Di tengah upaya penataan, Pemerintah Kota Bandung kini disebut mengarah pada skema pengupahan mendekati UMK, sekitar Rp4,7 juta. Namun bagi Andri, nilai pengabdian itu tak bisa disederhanakan menjadi angka.
“Dulu ada yang terima 7 juta, ada yang terima 8 juta, tapi mereka mau dibayar hanya 4,7 karena kecintaannya terhadap profesinya,” katanya.
Karena itu, ia menitipkan harapan yang jelas: ketika pengelola baru diumumkan, jangan mulai dari nol dengan orang-orang baru. Pertahankan mereka yang sudah membuktikan diri di masa paling sulit.
“Jadi harapan kami pertama, proses penunjukan apa mitra yang akan mengelola kebun binatangnya kita dukung untuk segera dilaksanakan. Yang kedua kami titip karyawan kebun binatang pertahankan, bukan soal subjektif tapi objektif,” ujarnya.
Di Kebun Binatang Bandung, krisis mungkin belum benar-benar selesai. Tapi selama masih ada orang-orang yang datang diam-diam setiap pagi untuk memastikan satwa tetap hidup, harapan itu belum sepenuhnya padam. Dan kini, harapan itu sedang diperjuangkan—agar mereka yang setia, tidak justru dilupakan.***





