Bandung, BandungOke – Di ruang-ruang perawatan RSUD Kota Bekasi, suasana belum sepenuhnya pulih. Sejumlah korban kecelakaan kereta rel listrik (KRL) di Bekasi Timur masih menjalani pemulihan, bukan hanya dari luka fisik, tetapi juga trauma yang membekas.
Di antara mereka, ada ibu hamil, ibu menyusui, hingga perempuan dengan balita—kelompok yang rentan, yang kini harus menghadapi dampak ganda: fisik dan psikologis.
Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (KemendukBangga)/BKKBN Provinsi Jawa Barat datang langsung menyapa mereka. Kunjungan itu dipimpin Kepala Perwakilan, Dadi Roswandi, bersama Direktur Ketahanan Keluarga, Lanjut Usia dan Rentan, Puji Prihatiningsih.
Bukan sekadar kunjungan formal, kehadiran mereka membawa pesan sederhana: negara tidak absen.
Dadi Roswandi menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut, sekaligus menegaskan komitmen untuk mendampingi korban dalam proses pemulihan. Ia menyoroti bahwa luka batin kerap tak terlihat, tetapi dampaknya bisa jauh lebih panjang.
“Kami mengajak pula untuk langsung berkonsultasi dengan layanan yang digagas KemendukBangga, yaitu SatyaGatra, layanan ini bisa dimanfaatkan secara gratis oleh korban atau keluarga korban agar kondisi mental setelah merasakan trauma kembali pulih,” ujarnya. Jum’at 1 Mei 2026
Layanan SatyaGatra menjadi salah satu pintu bagi para korban untuk memulihkan diri. Konseling yang disediakan difokuskan pada penguatan mental keluarga, terutama bagi mereka yang mengalami guncangan pascakecelakaan.
Di sela kunjungan, rombongan juga menyerahkan bantuan berupa santunan dan dukungan nutrisi. Bantuan itu diprioritaskan bagi ibu hamil dan menyusui—kelompok yang membutuhkan perhatian ekstra dalam masa pemulihan.
Meski sebagian korban mulai menunjukkan perkembangan, proses pemulihan belum sepenuhnya usai. Beberapa masih membutuhkan perawatan lanjutan, sementara keluarga terus berupaya menguatkan satu sama lain.
Sejumlah keluarga korban menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan. Di tengah situasi sulit, dukungan tersebut menjadi penopang—bukan hanya secara materi, tetapi juga emosional.
Kunjungan ini sekaligus menegaskan satu hal yang kerap luput: pemulihan pascabencana tidak berhenti pada penanganan medis. Trauma, kecemasan, dan rasa kehilangan membutuhkan ruang untuk dipulihkan.
Dalam konteks itu, kehadiran negara melalui layanan seperti SatyaGatra menjadi penting—sebagai jembatan menuju pemulihan yang utuh.
Di balik angka dan laporan kecelakaan, ada cerita-cerita manusia yang sedang berjuang kembali berdiri. Dan bagi mereka, sekadar didengar dan ditemani bisa menjadi awal untuk kembali pulih.***





