Bandung, BandungOke – Transformasi industri baja menuju target net zero emission ternyata tidak semudah mengganti teknologi produksi menjadi lebih hijau. Di balik agenda dekarbonisasi, industri baja nasional justru tengah menghadapi tekanan berat mulai dari lonjakan harga energi, serbuan baja impor, hingga margin bisnis yang makin tipis.
Persoalan itu mengemuka dalam Grand Final Net Zero Steel Pathways Cohort 2026 yang digelar Center for Policy and Public Management (CPPM) Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Kamis, 7 Mei 2026.
Forum bertajuk “Bridging the Landscape: Readiness & Viability in Indonesia’s Net Zero Steel Ecosystem” itu menjadi panggung diskusi penting tentang masa depan industri baja Indonesia di tengah tekanan transisi energi global.
Sebanyak 74 peserta eksekutif mengikuti program pendidikan intensif selama tiga bulan yang membahas kebijakan publik, dekarbonisasi industri, hingga strategi membangun ekosistem baja rendah karbon di Indonesia.
Chief Operating Officer PT Krakatau Steel Tbk, Dr. Sidik Darusulistyo, mengungkapkan bahwa industri baja saat ini berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi dituntut mempercepat agenda hijau, namun di sisi lain tetap harus menjaga daya saing dan profitabilitas perusahaan.
“Industri baja merupakan sektor strategis karena menjadi bahan baku utama bagi hampir seluruh sektor ekonomi, namun memiliki margin keuntungan yang terbatas,” kata Sidik.
Menurut dia, fokus utama Krakatau Steel saat ini adalah mempercepat cash conversion cycle lewat efisiensi operasional dan penyederhanaan proses bisnis. Strategi itu dilakukan dengan menekan work in process (WIP) dan inventori agar EBITDA perusahaan tetap terjaga positif di tengah tekanan biaya produksi.
Tak hanya itu, Krakatau Steel juga melakukan restrukturisasi terhadap puluhan sub-holding perusahaan untuk meningkatkan efisiensi organisasi dan mempercepat pengambilan keputusan bisnis.
Teknologi Hijau Sudah Dipakai, Tapi Harga Energi Jadi Masalah
Krakatau Steel sebenarnya sudah mulai mengadopsi konsep green industry sejak 2019 lewat penggunaan teknologi Electric Arc Furnace (EAF). Teknologi ini dikenal lebih rendah emisi dibanding metode konvensional berbasis batu bara.
Namun implementasinya belum sepenuhnya mulus.
Kenaikan harga gas alam serta dinamika pasar energi global membuat operasional teknologi hijau tersebut belum selalu optimal secara ekonomi.
“Intensitas emisi produksi berbasis DRI–EAF saat ini berada di kisaran 2,2 ton CO₂ per ton baja pada 2018. Meski demikian, peningkatan volume produksi dapat mempengaruhi tingkat intensitas emisi secara keseluruhan. Karena itu, strategi pemilihan pemasok dan pengelolaan rantai pasok menjadi faktor penting dalam pengendalian emisi perusahaan,” ujar Sidik.
Ia menilai pengendalian emisi kini tidak hanya bergantung pada teknologi produksi, tetapi juga pada strategi rantai pasok dan efisiensi bahan baku.
Baja China dan Proteksi Global Jadi Ancaman Baru
Di tengah upaya transisi hijau, industri baja nasional juga harus menghadapi tekanan besar dari pasar global, terutama membanjirnya produk baja asal Tiongkok.
Besarnya kapasitas produksi dan ekspor baja China membuat persaingan industri baja dunia semakin agresif. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan proteksi industri yang diterapkan banyak negara untuk melindungi pasar domestik mereka.
Karena itu, Krakatau Steel kini mulai mengaktifkan kembali pengolahan bahan baku impor demi memperkuat rantai pasok dalam negeri.
Menurut Sidik, keberlangsungan industri baja tidak cukup hanya mengandalkan efisiensi perusahaan. Dukungan kebijakan pemerintah juga menjadi faktor penting menjaga keberlanjutan industri nasional.
Dunia Kini Bergeser dari Net Zero ke Energy Trilemma
Dalam diskusi tersebut, Sidik juga menyoroti perubahan arah kebijakan energi global. Menurut dia, dunia kini mulai bergeser dari slogan net zero emission menuju konsep energy trilemma.
“Awalnya kita selalu mengagungkan ‘net zero emission’, namun sekarang ini perusahaan mulai bergeser kepada slogan ‘energy trilemma’, yakni keseimbangan antara energy security, affordability, dan green. Ini menjadikan kita tidak hanya berfokus pada produk yang ramah lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan nilai jual dan pengadaan resource,” ucapnya.
Konsep itu menekankan tiga aspek utama sekaligus, yakni keamanan energi, keterjangkauan biaya, dan keberlanjutan lingkungan.
Sidik memperkirakan penggunaan minyak dan gas secara global belum akan turun drastis dalam waktu dekat. Energi fosil dinilai masih tetap dibutuhkan selama masa transisi, termasuk untuk pengembangan teknologi hidrogen dan hydrocarbon engine.
“Dalam praktiknya, pengambilan keputusan di industri baja sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat kematangan teknologi, daya saing biaya, ketersediaan bahan baku, hingga perhitungan return on investment (ROI) untuk menjaga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang,” katanya.
SBM ITB: Industri Baja Hadapi Tekanan Berat di Era Energi Hijau
Kepala CPPM SBM ITB, Yudo Anggoro, Ph.D., menilai industri baja saat ini tengah menghadapi tantangan besar untuk tetap kompetitif di tengah transisi menuju energi hijau.
Menurut dia, lonjakan harga gas alam membuat proses transformasi menuju green energy semakin kompleks dan mahal.
Selain itu, keterbatasan sumber daya serta tuntutan efisiensi operasional memaksa perusahaan baja terus mencari titik keseimbangan antara agenda dekarbonisasi dan keberlanjutan bisnis.
“Iindustri baja saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga daya saing di tengah transisi menuju energi hijau,” ujar Yudo.
Bagi industri baja nasional, transformasi hijau kini bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan soal bertahan hidup di tengah perubahan ekonomi global yang semakin keras.***





