Bandung, BandungOke – Alam tak selalu hadir sebagai bentang hutan atau deru ombak. Di Bandung Creative Hub, ia menjelma menjadi nada dan warna.
Melalui konser musik dan pameran lukisan bertajuk “Nature: Suara dan Warna Alam”, para seniman lintas generasi mencoba membaca ulang relasi manusia dengan lingkungannya—dengan cara yang sunyi, reflektif, dan personal.
Pameran yang berlangsung pada 7–10 Februari 2026 ini menghadirkan karya lukis bertema alam yang berdialog dengan pertunjukan musik.
Piano, gitar, biola, saksofon, hingga paduan suara anak dan dewasa mengalun bersamaan dengan visual lanskap, ekspresi ekologis, serta tafsir personal para perupa terhadap alam.
“Alam tidak bisa dipisahkan dari manusia. Tapi hari ini kita justru semakin jauh darinya,” ujar Fatimah Al-Ma’shumah, ketua panitia sekaligus penggagas acara. Minggu (1/2)
Menurutnya, meningkatnya bencana ekologis merupakan cermin dari krisis relasi manusia dengan alam dan sesama.

Ketua Panitia dan Penggagas Acara Pameran Karya Lukis Nature (Suara dan Warna Alam) Foto :Denny Surya
Kegiatan ini tidak membatasi diri pada seniman profesional. Peserta datang dari berbagai latar belakang dan usia, bahkan ada yang berusia lebih dari 80 tahun dan masih aktif berkarya.
Bagi penyelenggara, seni adalah ruang perjumpaan, bukan sekadar ruang pamer.
Konser musik dalam rangkaian acara ini digelar secara terbatas karena kapasitas ruang.
Namun semangat kolaborasi tetap menjadi benang merah. Seluruh karya musik mengusung tema alam, menegaskan bahwa bunyi dan visual dapat saling memperkuat pesan ekologis.
Pameran ini juga menjadi ruang edukasi, terutama bagi anak-anak dan remaja. Melalui lokakarya seni, kegiatan komunitas, hingga keterlibatan dalam kepanitiaan, mereka diajak keluar dari ketergantungan pada gawai dan mengenal proses kreatif sebagai bagian dari kehidupan yang bermakna.
Lebih dari perayaan seni, “Nature: Suara dan Warna Alam” memuat pesan kepedulian. Sebagian hasil kegiatan didedikasikan untuk donasi kemanusiaan dan isu lingkungan.
Di ruang ini, seni tidak berdiri sendiri—ia hadir sebagai bahasa empati, pengingat, sekaligus ajakan untuk kembali merawat relasi dengan alam.***





