Bandung, BandungOke — Sore itu, suasana di kawasan Dago terasa berbeda. Di salah satu sudut Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung, tawa anak-anak pecah, berpadu dengan lantunan ayat suci yang mengalun pelan.
Ramadan tak sekadar menjadi rutinitas ibadah, tapi juga ruang berbagi yang terasa nyata.
Pada 5 Maret 2026, hotel ini menggelar program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan mengundang 40 anak dari panti asuhan di sekitar Bandung. Mereka datang dari Panti Asuhan Khoerunnisa dan Yayasan La Yashu La Yanam—membawa semangat sederhana: menikmati kebersamaan di bulan suci.
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari General Manager, Gerri Primacitra. Tak panjang, tapi cukup memberi nada bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan komitmen.
“Ramadan adalah waktu yang istimewa untuk berbagi kebaikan dan mempererat hubungan dengan masyarakat,” ujar Gerri dikutip dari keterangan persnya, Selasa 18 Maret 2026.
Setelah itu, suasana berubah khidmat. Doa bersama dipimpin ustaz, disusul lantunan ayat Al-Qur’an dari anak-anak panti. Beberapa tamu tampak terdiam, menyimak dengan wajah yang tak lagi sekadar formal.
Di sela acara, manajemen hotel menyerahkan santunan dan goodie bag. Bagi anak-anak, mungkin itu terlihat sederhana. Tapi di momen seperti Ramadan, hal-hal kecil sering terasa lebih bermakna.
Menjelang azan magrib, meja-meja mulai terisi hidangan berbuka. Percakapan ringan mengalir, sebagian anak sibuk berfoto, sebagian lain memilih duduk tenang, menikmati suasana yang jarang mereka rasakan.
Sebelum acara utama, tim hotel juga sempat turun ke jalan, membagikan takjil gratis kepada masyarakat sekitar.
Aktivitas yang mungkin terlihat biasa, tapi menjadi pengingat bahwa berbagi bisa dimulai dari hal paling dekat.
Bagi pihak hotel, kegiatan ini bukan titik akhir. Ada rencana untuk menjadikannya sebagai agenda berkelanjutan—bagian dari cara mereka hadir di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai tempat menginap, tapi juga ruang yang punya kepedulian sosial.
Ramadan, pada akhirnya, memang selalu menemukan caranya sendiri untuk menghadirkan makna. Kadang lewat doa, kadang lewat pertemuan, dan sesekali—melalui meja buka puasa yang mempertemukan banyak cerita.***





