Bandung, BandungOke — Kedalaman laut kerap dipahami sebagai ruang ilmiah yang bisa diukur, dipetakan, dan dijelaskan. Namun, di tangan seniman asal Italia, Alessio Ceruti, laut justru hadir sebagai wilayah yang tak pernah benar-benar selesai dipahami—penuh ketegangan antara keindahan dan kehancuran, antara yang tampak dan yang tersembunyi.
Melalui pameran tunggal bertajuk Fragments From Below di ArtSociates Gallery–Café, Jalan Dago Giri 99, Bandung, Ceruti mengajak publik memasuki lanskap bawah laut yang ganjil sekaligus memikat. Berangkat dari fotografi dan video bawah air, ia mengolah ulang citra melalui berbagai intervensi material, menciptakan karya yang berada di antara dokumentasi dan imajinasi.
Hasilnya bukan sekadar representasi visual, melainkan pengalaman perseptual yang mengaburkan batas antara realitas dan konstruksi artistik.
Kurator pameran, Agung Hujatnikajennong, menyebut praktik Ceruti bergerak di wilayah yang mempertemukan sains dan puisi. “Makhluk-makhluk lautnya mengambang di ambang pengetahuan dan abstraksi, dibentuk sama kuatnya oleh persepsi dan lapis-lapis misteri dari tempat mereka muncul,” ujar Agung.
Ia menambahkan, pameran ini tidak hanya berbicara soal estetika, tetapi juga tentang bagaimana manusia memahami—dan sering kali menyederhanakan—alam.
“Untuk pameran ini, kami coba menawarkan satu perspektif bagaimana seni bisa melihat laut ini secara berbeda. Terutama kalau kita bandingkan sains dan mitologi misalnya, seni punya cara yang sendiri membicarakan laut. Sains membicarakan laut sebagai data, sebagai satu kartografi, sebagai sebuah ruang dimana organisme berkembang biak, seolah-olah semuanya terjelaskan oleh sains. Pada kenyataanya tidak, masih banyak ruang yang sangat misterius tentang laut. Pada titik itu seni punya peran,” kata Agung di Gedung Lawangwangi, Jumat (17/4) sore.

Bagi Ceruti sendiri, proyek ini adalah proses yang belum selesai—sebuah penelitian artistik yang terus berkembang tentang relasi manusia dengan alam. Ia melihat adanya ketegangan inheren: antara dorongan untuk menguasai alam dan keinginan untuk melestarikannya.
“Fragments from Below, ini adalah penelitian yang masih berjalan, perihal hubungan antara manusia dan alam, tetapi juga ketegangan yang kita miliki dan keinginan untuk mengendalikan alam, untuk juga melestarikan alam dan menampilkannya. Dalam karya seni ini, yang ingin saya tunjukkan adalah ketegangan antara keindahan dan kerapuhan, tetapi juga antara keteraturan dan kekacauan, dan sesuatu yang tampak permanen tetapi kemudian menghilang seiring berjalannya waktu. Cangkang, karang, dan kehidupan laut bagi saya adalah simbol keindahan dan keanggunan, dan juga ketidakstabilan serta kerapuhan,” tutur Ceruti.
Pameran ini juga menandai momentum penting bagi Andonowati, Direktur ArtSociates, yang kembali menghidupkan gagasan lama: menjembatani seni dengan sains dan teknologi. Sebuah rencana yang sempat tertunda sejak 2009 kini kembali dirintis melalui perubahan tata kelola institusi.
“Tahun ini, per satu April ini semua karya dan proyek-proyek seni rupa dikembalikan ke dalam tata kelola Yayasan kami -tidak lagi berada di dalam tata kelola PT Buniwangi Lestari. Dengan tata kelola di bawah Yayasan, maka tahapan-tahapan yang terukur untuk bisa menghubungkan seniman dan ilmuan dapat dimulai lagi dari awal. Pameran ini, rupanya, menjadi awal proyek seni yang terhubung dengan sains serta jadi langkah baru untuk masa depan,” ujar Andonowati.
Fragments From Below tidak sekadar menghadirkan citra laut, tetapi juga mempersoalkan cara manusia memandangnya. Di antara lapisan visual yang indah dan rapuh, terselip kritik halus: bahwa ambisi memahami dan mengendalikan alam kerap berhadapan dengan kenyataan—bahwa sebagian dunia, seperti laut, akan selalu menyimpan misterinya.
Pameran ini berlangsung hingga 29 Mei 2026 di Gedung Lawangwangi, Bandung.***





