CIMAHI, BandungOke — Sebuah buku tentang kehidupan masyarakat adat di Kota Cimahi mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
Buku berjudul Kampung Adat Cireundeu: Warisan Budaya Leluhur dinilai tidak sekadar mendokumentasikan tradisi, tetapi juga merekam pengetahuan lokal yang masih bertahan di tengah modernisasi.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Cimahi, Dani Bastiani, mengapresiasi buku yang ditulis oleh Ayo Sunaryo, Ares Rudhiansyah, Rivaldi Indra Hapidzin, Indra Gandara, dan Muhamad Ramadhan tersebut.
Menurut dia, Kampung Adat Cireundeu menjadi salah satu ruang budaya yang tetap menjaga nilai leluhur di wilayah perkotaan.
“Buku ini menghadirkan gambaran yang utuh tentang tradisi, sistem kepercayaan, hingga ketahanan pangan masyarakat adat berbasis rasi atau beras singkong. Ini bukan hanya dokumentasi budaya, tetapi juga relevan dengan isu keberlanjutan saat ini,” ujar Dani dikutip Sabtu 9 Mei 2026.
Buku itu merupakan luaran program hibah Dana Indonesiana yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan pada 2024.
Sebelum diterbitkan lebih luas, proses diseminasi dilakukan langsung di Kampung Adat Cireundeu dengan melibatkan tokoh adat, masyarakat setempat, akademisi, dan pemerintahDrs. Dani Bastiani (Kepala Disbudparpora Kota Cimahi) bersama Ares Rudhiansyah, S.Pd. (Kepala Seksi Kebudayaan Kota Cimahi) mengapresiasi buku Kampung Adat Cireundeu; Warisan Budaya Leluhur.
daerah.
Bagi Pemerintah Kota Cimahi, pelestarian budaya tidak cukup hanya diwariskan secara lisan dan turun-temurun. Tradisi juga perlu ditulis, diteliti, dan diperkenalkan kembali agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Kampung Adat Cireundeu selama ini dikenal dengan tradisi konsumsi rasi atau beras singkong sebagai pangan pokok alternatif.
Praktik itu dipandang sebagai bentuk kemandirian pangan berbasis sumber daya lokal yang telah berlangsung lama. Dalam konteks hari ini, gagasan tersebut dianggap berkaitan dengan isu krisis pangan dan perubahan iklim.

Disbudparpora Cimahi menilai buku tersebut dapat menjadi media edukasi budaya bagi generasi muda sekaligus memperkuat kesadaran tentang pentingnya menjaga kearifan lokal sebagai bagian dari identitas budaya Sunda.
Selain itu, buku ini juga dipandang berpotensi menjadi rujukan akademik bagi mahasiswa, peneliti, guru, komunitas budaya, hingga pemerintah daerah dalam memahami hubungan antara kebudayaan, lingkungan, dan keberlanjutan hidup masyarakat adat.
Apresiasi pemerintah daerah terhadap buku ini memperlihatkan bahwa karya literasi budaya masih memiliki posisi penting dalam upaya pemajuan kebudayaan.
Melalui pendekatan yang ilmiah sekaligus dekat dengan kehidupan masyarakat, warisan budaya dipandang bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang terus hidup dan berkembang.***





