Bandung, BandungOke — Lubang bekas galian utilitas di sejumlah ruas jalan Kota Bandung tak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga memantik keluhan warga.
Jalan yang baru saja dibongkar sering kali dibiarkan tak rapi berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Kondisi ini akhirnya memaksa pemerintah kota turun tangan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memerintahkan badan usaha milik daerah (BUMD) untuk segera merapikan seluruh bekas pekerjaan galian utilitas yang tersebar di berbagai titik kota.
Ia menilai pekerjaan infrastruktur tidak boleh berhenti pada tahap pembangunan semata, tetapi juga harus memastikan kondisi jalan kembali layak digunakan.
BUMD yang mendapat instruksi langsung adalah PT Bandung Infra Investama dan PDAM Tirtawening Kota Bandung. Kedua lembaga itu diminta memastikan setiap titik pekerjaan yang telah selesai segera dirapikan agar tidak meninggalkan persoalan baru bagi masyarakat.
Menurut Farhan, pekerjaan pembangunan yang menyentuh ruang publik memiliki konsekuensi besar terhadap aktivitas warga.
Bekas galian yang dibiarkan terlalu lama bukan hanya mengganggu lalu lintas, tetapi juga berpotensi menimbulkan kecelakaan.
“Pemkot Bandung pada prinsipnya mendukung pembangunan infrastruktur. Namun setelah pekerjaan selesai, kondisi jalan harus segera dirapikan kembali sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman,” kata Farhan, Minggu, 8 Maret 2026.
Saat ini PT Bandung Infra Investama telah menyelesaikan pembangunan jaringan utilitas IPT di 13 ruas jalan hingga 5 Maret 2026. Namun Farhan menekankan bahwa penyelesaian proyek tidak berhenti pada pemasangan jaringan, melainkan juga pada penataan kembali lingkungan proyek.
Ia mengingatkan, sebagai perusahaan milik daerah, BUMD semestinya menjadi contoh dalam pelaksanaan proyek infrastruktur—mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penyelesaian pekerjaan.
“BUMD kita harus menjadi teladan. Setiap pekerjaan yang dilakukan harus diselesaikan dengan baik, termasuk memastikan bekas galian dirapikan dan dikembalikan ke kondisi yang layak,” ujarnya.
Masalah galian utilitas sendiri selama ini menjadi salah satu keluhan klasik warga kota. Trotoar yang dibongkar, aspal yang belum kembali rata, hingga material proyek yang berserakan sering kali membuat jalan tidak nyaman dilalui.
Karena itu, Farhan menekankan pentingnya koordinasi lintas instansi agar pembangunan infrastruktur tidak justru menciptakan masalah baru di lapangan.
“Koordinasi itu penting supaya tidak menimbulkan masalah di lapangan, jadi dengan perencanaan dan pengawasan yang baik, semuanya juga akan jadi baik, warga pun jadi nyaman,” pungkasnya.***





