Bandung BandungOke – Di sebuah sudut perbukitan Desa Mekarsari, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, kehidupan hampir 20 tahun berjalan dalam gelap bagi Mak Tati. Perempuan berusia hampir 70 tahun itu tinggal di rumah reyot tanpa listrik. Setiap hujan turun, rasa cemas datang lebih dulu dibanding tetesan air dari atap yang bocor.
Kini, keadaan itu berubah. Program pengabdian masyarakat dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) merenovasi rumah Mak Tati sekaligus memasang listrik mandiri berbasis tenaga surya. Hunian yang dulu nyaris roboh, kini berdiri lebih kokoh dan terang.
“Dulu kalau hujan Emak suka mengungsi ke rumah tetangga karena pasti bocor di sana sini, suka takut rumah rubuh juga rumah benar-benar gelap, bahkan sampai sekitar 20 tahun tidak ada penerangan listrik,” ujar Mak Tati.
Selama dua dekade, aktivitas malam hari hanya ditemani lampu minyak. Gelap bukan sekadar kondisi, tapi menjadi bagian dari keseharian. Bahkan suara hewan liar di sekitar rumah sering membuatnya waswas.
Perubahan datang setelah tim UPI turun langsung. Rektor UPI, Didi Sukyadi, menyebut kondisi seperti yang dialami Mak Tati masih menjadi persoalan struktural di banyak daerah.
“Masih banyak masyarakat yang belum menikmati listrik, meskipun infrastruktur sudah tersedia. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan biaya untuk instalasi dan pembayaran listrik bulanan,” ujarnya.
Sebagai solusi, UPI memasang sistem listrik tenaga surya lengkap dengan panel dan baterai. Selain itu, rumah Mak Tati dibangun ulang dalam waktu sekitar satu minggu. Pengerjaan dilakukan secara gotong royong bersama warga.
Ketua pelaksana program, Yaya Sonjaya, menuturkan pendekatan yang digunakan berbasis kebutuhan nyata masyarakat.
“Pembangunan rumah ini kami targetkan selesai dalam satu minggu, dan alhamdulillah dapat tercapai sesuai rencana melalui kerja sama dengan masyarakat setempat,” jelasnya.
Kini, malam tak lagi menakutkan bagi Mak Tati. Lampu listrik sederhana cukup mengubah rasa aman yang selama ini hilang.

“Biasanya kalau malam, Emak masih suka mendengar suara celeng di sekitar rumah, sekarang kondisinya sudah lebih aman karena ada penerangan,” katanya.
Program ini juga mendapat dukungan alumni UPI, termasuk Asep Haluesna, yang menyumbangkan 10 unit panel surya bagi masyarakat sekitar. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci agar dampak sosial bisa meluas.
“Program ini akan terus berlanjut sebagai bagian dari komitmen untuk memberikan manfaat kepada masyarakat melalui kolaborasi,” ujarnya.
Meski rumah baru dan listrik telah tersedia, Mak Tati masih menyimpan satu harapan sederhana: air bersih.
“Selain listrik, kebutuhan utama warga saat ini adalah air bersih,” ungkapnya.
Renovasi rumah ini bukan sekadar pembangunan fisik. Ia menghadirkan terang, rasa aman, dan harapan baru. Di balik dinding yang kini berdiri kokoh, ada cerita tentang gotong royong, teknologi sederhana, dan kepedulian yang mengubah hidup.***





