Bandung, BandungOke — Di tengah pengelolaan Bandung Zoo yang berselimut kabut, secercah napas bantuan kembali datang.
Kali ini dari kader PDI Perjuangan Jawa Barat yang menghimpun dana gotong royong sekitar Rp145 juta.
Bukan sekadar angka, bantuan itu menjelma menjadi harapan: bagi satwa yang bergantung pada pakan harian, dan bagi para pekerja yang menggantungkan hidupnya di balik kandang-kandang sunyi.
Ketua Komisi II DPRD Jawa Barat dari Fraksi PDI Perjuangan, Bambang Mujiarto, datang bersama jajaran kader partai. Yakni, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bandung Andri Gunawan, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jabar Ineu Purwadewi Sundari, serta anggota Komisi II Bayu Satya Prawira.
Mereka menyerahkan bantuan ekstra fooding untuk satwa serta menutup tunggakan iuran BPJS Ketenagakerjaan karyawan.
Bagi Bambang, bantuan ini bukan sekadar respons sesaat. Ia menyebutnya sebagai komitmen yang akan terus dijaga, selama nasib pengelolaan Bandung Zoo belum menemukan kejelasan.
“Iya, sebagai komitmen yang sudah disampaikan oleh Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Pak Ono, bahwa ini adalah komitmen nyata dari kami untuk membantu,” Kata Bambang kepada wartawan. Rabu 29 April 2026.
“Jadi bukan hanya di bulan sekarang saja, sepanjang belum ada kepastian pengelola, maka kita akan tetap bergotong royong untuk meringankan membantu persoalan yang ada di Bandung Zoo ini,” imbuh Bambang.
Fokus bantuan diarahkan pada dua hal paling mendasar: pakan satwa dan kesejahteraan pekerja. Dua elemen yang tak terpisahkan, seperti denyut kehidupan yang saling menopang.
“Yang terpenting bagaimana kita memastikan bahwa satwa-satwa yang ada di kebun binatang ini tetap terpelihara, mendapatkan asupan pakan yang baik, memadai, serta berkualitas untuk kesehatan mereka,” ujarnya.
Di balik kandang, ada rutinitas yang tak boleh terputus. Ada perut-perut yang harus terisi, ada kehidupan yang harus dijaga. Bagi Bambang, memastikan satwa tetap hidup layak juga berarti menjaga martabat para pekerja yang merawatnya setiap hari.
“Kalau binatangnya saja dipelihara dengan baik, maka tentu pegawainya pun minimal terbawa juga,” katanya.
Dari total dana sekitar Rp145 juta, sebagian dialokasikan untuk kebutuhan pakan satwa. Sisanya digunakan untuk membayar tunggakan iuran BPJS Ketenagakerjaan selama tiga bulan—jaminan dasar yang sempat tertunda di tengah krisis.
“Ada untuk pakan dan juga ada untuk iuran tunggakan, tunggakan iuran BPJS Ketenagakerjaan di tiga bulan,” ujar Bambang.
Dana tersebut, kata dia, dihimpun sepenuhnya dari kader PDI Perjuangan Jawa Barat. Tidak ada paksaan, tidak pula keluhan. Gotong royong berjalan sebagai kesadaran kolektif—bahwa politik tak berhenti pada perebutan suara, tetapi juga pada kerja nyata yang menyentuh kehidupan.
“Kalau kader kita kan yang dikedepankan ini bukan hanya merebut kekuasaan, merebut suara rakyat, tetapi bagaimana kerja-kerjanya ini bisa dirasakan bukan hanya untuk manusia, tetapi lingkungan dan juga hewan pun kita perhatikan,” ujarnya.
Langkah ini, bagi sebagian orang, mungkin hanya penyangga sementara. Namun bagi satwa yang menunggu makan, dan pekerja yang menanti kepastian, bantuan itu adalah jeda dari kegelisahan—ruang bernapas di tengah ketidakpastian yang belum juga usai.
Bambang memastikan, selama pengelolaan belum jelas, bantuan akan terus mengalir. Gotong royong, katanya, masih berjalan.
“Sepanjang masih belum ada kepastian untuk pengelolaan, ya kita akan tetap bergotong royong. Dan ini masih berjalan.” pungkasnya.***





