Bandung, BandungOke — Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung memasuki usia ke-58 dengan menegaskan arah transformasi kelembagaan berbasis penguatan ekosistem seni budaya.
Momentum Dies Natalis yang bertepatan dengan suasana Idulfitri itu sekaligus menjadi laporan akhir kepemimpinan Rektor ISBI Bandung, Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen., M.Hum., untuk periode 2022–2026.
Tema “Penguatan ekosistem seni budaya melalui transformasi dan inovasi tradisi berkelanjutan” menjadi benang merah pidato rektor.
Dalam sambutannya, Retno menekankan bahwa ISBI Bandung memposisikan diri sebagai agen pemajuan kebudayaan, bukan sekadar lembaga pendidikan seni.
“Tradisi tidak dibaca secara mandek. Tradisi dalam T besar adalah tradisi yang terus hidup dan kita menjawab tantangan zaman ini dengan basis tradisi kita. Jadi kelokalan kita akan jauh lebih kuat untuk menjadi global,” kata Retno kepada wartawan. Rabu 1 April 2026.
Dari STSI ke ISBI: Jejak 1969–2026
Berdiri sejak 1969 sebagai institusi pendidikan seni di Jawa Barat, ISBI Bandung berkembang dari sekolah tinggi seni menjadi perguruan tinggi negeri berbasis budaya.
Dalam 58 tahun perjalanannya, kampus ini memainkan peran penting dalam konservasi sekaligus inovasi seni tradisi Sunda dan Nusantara.
Pada masa kepemimpinan Retno, arah pengembangan kampus difokuskan pada integrasi pendidikan, masyarakat, dan industri kreatif melalui konsep edu-cultural tourism.
Konsep ini menghubungkan tiga kawasan kampus: Buahbatu sebagai pusat urban, Cikamuning sebagai kawasan pengembangan budaya, dan Rancakalong sebagai rural campus berbasis agraris.
“Makanya kalau tadi disebutkan, kita ingin menjadi edu-cultural tourism. Jadi itu adalah satu kesatuan yang memang kita tetap menguatkan tradisi kita tapi secara berkelanjutan,” ujarnya.
Penguatan Ekosistem Budaya
ISBI Bandung menjalankan sejumlah program kolaboratif dengan pemerintah daerah di Jawa Barat, mulai dari Kabupaten Bandung, Bandung Barat, hingga Sumedang.
Program tersebut meliputi pencatatan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), pengembangan desa wisata, hingga festival berbasis komunitas.
Kampus juga mendorong program One Village One Story (OVOS) yang akan diterapkan di Pangandaran pada 2026.
Program ini menggabungkan riset, pertunjukan seni, dan keterlibatan masyarakat dalam satu narasi budaya lokal.
Selain itu, ISBI Bandung memperkuat digitalisasi kebudayaan melalui portal Ensiklopedi Seni Pertunjukan Jawa Barat dan sistem informasi budaya nasional.
Upaya ini dimaksudkan untuk memperluas akses publik terhadap warisan budaya.

Kolaborasi Jadi Strategi
Retno menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penguatan budaya.
Menurutnya, kemitraan dengan pemerintah daerah, swasta, dan media menjadi fondasi transformasi kampus seni.
“Saya kira kerja sama kita dengan semua pihak, pemerintah daerah, kemudian juga pihak swasta, kemudian dengan media, dengan teman-teman semua ini harus terjalin kuat,” kata Retno.
Ia menyebut masa kepemimpinannya sebagai tahap embrio menuju transformasi jangka panjang.
Platform digital, kerja sama internasional, hingga penguatan infrastruktur disebut telah disiapkan sebagai fondasi bagi pimpinan berikutnya.
“Nah, tahun pemerintahan saya mungkin adalah tahun embrio untuk bergerak ke arah sana. Jadi semua platform disiapkan dulu supaya nanti ke depan penerusnya itu tinggal mengikuti apa yang harus dilakukan berikutnya,” ujarnya.
Capaian Akademik dan Infrastruktur
Dalam empat tahun terakhir, ISBI Bandung mencatat sejumlah capaian, di antaranya pembukaan tiga program studi baru, peningkatan jumlah mahasiswa berprestasi, serta pengembangan smart classroom berbasis hybrid learning.
Kampus juga memperluas lahan pengembangan di Cikamuning dan Rancakalong sebagai pusat pembelajaran berbasis masyarakat.
Selain itu, kerja sama internasional diperluas melalui program pertukaran mahasiswa, pertunjukan seni, dan riset bersama dengan sejumlah negara di Asia dan Eropa.
Tradisi sebagai Basis Global
Di penghujung pidatonya, Retno menekankan bahwa penguatan tradisi bukanlah langkah mundur, melainkan strategi menghadapi globalisasi budaya.
Ia optimistis ISBI Bandung mampu menjadi pusat kolaborasi seni budaya nasional dan internasional.
“Dan saya yakin dengan ISBI Bandung kita bisa berkolaborasi dengan siapa pun, kita bisa bersinergi dengan siapa pun, dan kita akan menguatkan budaya bangsa kita jauh ke depan untuk mancanegara dan nusantara,” kata Retno.
Dies Natalis ke-58 ISBI Bandung menandai fase transisi: dari institusi konservasi seni menjadi kampus transformasi budaya.
Tantangan berikutnya adalah memastikan ekosistem yang telah dirintis tetap berkelanjutan dan mampu menjawab perubahan zaman.***





