Bandung, BandungOke.com – Proyek pembangunan terowongan (tunnel) PLTA Upper Cisokan di wilayah Kabupaten Bandung Barat mengalami longsor pada Jumat, 1 Mei 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Insiden ini kembali menegaskan kerentanan proyek infrastruktur energi di kawasan rawan bencana, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah (UIP JBT) mengonfirmasi bahwa longsor terjadi di area rencana outlet pembangkit. Dalam pernyataan resminya, PLN menyebut curah hujan tinggi sebagai faktor pemicu utama.
“Benar telah terjadi longsor di area rencana Outlet PLTA Upper Cisokan yang diduga karena curah hujan yang tinggi,” ujar Ferdyan Hijrah Kusuma, Senior Manager Perizinan, Pertanahan dan Komunikasi PLN UIP Jawa Bagian Tengah. Sabtu 2 Mei 2026.
PLN memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, lantaran tidak ada aktivitas pekerjaan saat longsor terjadi.
“Kami pastikan bahwa pada saat terjadinya longsor tidak ada aktivitas pekerjaan di lokasi tersebut dan tidak ada korban jiwa atas bencana ini,” kata Ferdyan.
Meski nihil korban, insiden ini tetap menyisakan pertanyaan mendasar. Proyek strategis seperti PLTA Upper Cisokan—yang diproyeksikan menjadi bagian penting dalam bauran energi bersih—dibangun di wilayah dengan karakteristik geologi kompleks. Dalam konteks ini, longsor bukan semata kejadian tak terduga, melainkan risiko yang semestinya telah diantisipasi secara komprehensif sejak tahap perencanaan.
PLN menyatakan telah mensterilkan area terdampak dan menghentikan sementara seluruh aktivitas proyek sebagai langkah mitigasi awal. Pekerja juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan.
“Area tersebut beserta lokasi yang berpotensi longsor telah kami sterilkan dan juga menghentikan sementara seluruh aktivitas pekerjaan,” ujar Ferdyan.
“Kami juga memberikan imbauan bagi seluruh pekerja untuk mengantisipasi serta waspada terhadap potensi terjadinya longsor di lokasi yang berpotensi longsor.” imbuhnya.
Saat ini, tim engineer PLN tengah melakukan peninjauan teknis untuk menentukan langkah lanjutan. Namun, belum ada penjelasan rinci terkait evaluasi desain konstruksi terowongan, sistem drainase, maupun penguatan lereng yang menjadi kunci dalam mencegah kejadian serupa.
Di titik ini, sorotan tak lagi berhenti pada respons pascakejadian, tetapi bergeser ke aspek mitigasi sejak awal. Apakah analisis risiko geoteknik telah cukup presisi? Sejauh mana sistem pengendalian air dan stabilitas lereng dirancang untuk menghadapi curah hujan ekstrem yang kian sulit diprediksi?
Longsor di proyek PLTA Upper Cisokan menjadi pengingat bahwa ambisi transisi energi harus diimbangi dengan ketahanan infrastruktur. Tanpa itu, percepatan pembangunan justru berpotensi memperbesar risiko di lapangan.***





