BandungOKE
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam
  • Dengar Radio!Baru
No Result
View All Result
BandungOKE
No Result
View All Result

Budi Setiyono Ingatkan Indonesia Emas 2045 Terancam Gagal Karena Hal Ini

Denny Surya
26 Februari 2026 - 19:57
Budi Setiyono Ingatkan Indonesia Emas 2045 Terancam Gagal Karena Hal Ini



BKKBN menegaskan, bonus demografi bisa berubah menjadi beban jika negara gagal menghitung kebutuhan riil tenaga kerja, layanan publik, dan daya dukung kota

Bandung, BandungOke – Angka kelahiran Indonesia memang turun. Namun alarm justru berbunyi lebih keras.

Total Fertility Rate (TFR) Indonesia tercatat 2,11 pada 2024 dan 2,12 pada 2025—turun jauh dibanding era 1970-an yang menyentuh 5,8 anak per perempuan.

RelatedPosts

7 Fakta Permainan Kuno di Borobudur yang Baru Terungkap, Bukan Sekadar Candi

Menuju Indonesia 2045, Wihaji Tekankan Peran Keluarga Cegah Aging Population

Evakuasi Rampung! Jalur KA Bumiayu Dibuka, Kecepatan Masih Dibatasi

Secara demografis, angka itu mendekati titik keseimbangan penggantian penduduk. Tapi bagi pemerintah, penurunan itu bukan garis finis.

“Dulu orang tua kita rata-rata punya anak 5 sampai 6. Sekarang perempuan kita rata-rata punya anak sekitar 2 atau 3. Sehingga angka agregat kita adalah 2,12 di tahun 2025,” ujar Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono dalam penutupan Rakorda Kependudukan 2026 di Bandung. Kamis (26/2/2026) malam.

Budi menepis anggapan bahwa turunnya TFR membuat peran BKKBN tak lagi relevan.

“Kalau orang mengasumsikan dengan menurunnya TFR maka tidak ada relevansi lagi ada BKKBN, itu merupakan pandangan yang sangat-sangat keliru,” tegasnya.

Justru di titik inilah, menurut dia, negara dituntut lebih presisi.

Kota-Kota Tertekan, Negara Terancam Kewalahan

Budi menyinggung contoh konkret di Kota Bandung. Persoalan sampah yang tak kunjung selesai, menurutnya, bukan sekadar masalah teknis.

“Pagi dikeruk, sore sudah menggunung lagi. Sore dikeruk, pagi menggunung lagi.” ujarnya.

Fenomena itu menunjukkan kapasitas layanan kota tidak lagi sebanding dengan kebutuhan penduduknya.

Ketidakseimbangan antara jumlah manusia dan kemampuan sistem publik menjadi bom waktu pembangunan.

Masalah ini tak hanya terjadi di Bandung. Urbanisasi cepat, kepadatan tinggi, dan perencanaan populasi yang tak presisi membuat banyak kota megap-megap menyediakan pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga perumahan layak.

Jika dibiarkan, tekanan ini berpotensi menggerus kualitas hidup generasi produktif—kelompok yang justru menjadi tulang punggung visi Indonesia Emas 2045.

Bonus Demografi Bisa Berubah Jadi Bencana Demografi

Indonesia tengah menikmati bonus demografi, di mana periode ketika usia produktif mendominasi populasi. Secara teori, ini adalah mesin pertumbuhan ekonomi.

Namun tanpa perencanaan, bonus itu bisa berbalik arah.

“Mengelola negara dalam konteks kependudukan harusnya lebih canggih dari mengelola satu perusahaan,” ujar Budi.

Ia mengibaratkan negara seperti korporasi yang harus menghitung presisi jumlah tenaga kerja sesuai target produksi.

“Tugas kementerian kita adalah menyeimbangkan antara supply dan demand. Kita harus secara presisi menghitung negara kita butuh berapa orang dalam konteks investasi dan lapangan pekerjaan.”

Jika penduduk terlalu banyak, negara tak mampu menyerap tenaga kerja dan menyediakan layanan publik. Jika terlalu sedikit, konsumsi menurun dan pertumbuhan ekonomi melambat.

Di sinilah letak pertaruhannya.

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan pertumbuhan 7–8 persen. Ia mensyaratkan keseimbangan populasi, kualitas sumber daya manusia, serta daya dukung infrastruktur yang terukur.

2045: Waktu Terbatas, Perhitungan Harus Tepat

TFR 2,12 menempatkan Indonesia di titik krusial. Terlalu longgar mengelola populasi berisiko menciptakan tekanan sosial. Terlalu ketat bisa memicu penuaan dini penduduk—fenomena yang kini menghantui sejumlah negara maju.

“Inilah inti dari tata kelola kependudukan: menjaga keseimbangan populasi,” kata Budi.

Artinya, pekerjaan rumah menuju 2045 bukan lagi soal membatasi kelahiran. Melainkan memastikan setiap kelahiran lahir dalam sistem yang siap menyediakan pendidikan, pekerjaan, dan layanan publik berkualitas.

Jika tidak, Indonesia bisa terjebak dalam paradoks: jumlah penduduk produktif melimpah, tetapi kualitas dan daya serap ekonomi tak memadai.

Visi Indonesia Emas 2045 pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak orang yang hidup di negeri ini—melainkan seberapa presisi negara mengelola mereka.***

Tags: bkkbnbonus demografiDemografi IndonesiaIndonesia Emas 2045Kota BandungRakorda Kependudukan 2026Tata Kelola KependudukanTFR Indonesia 2025
Share224Tweet140Share56
ADVERTISEMENT

Trending

RUU Satu Data Disorot, Guru Besar Tel-U Tegaskan Data Kini Aset Strategis Negara!
Pendidikan

RUU Satu Data Disorot, Guru Besar Tel-U Tegaskan Data Kini Aset Strategis Negara!

13 jam ago
Viral Keluhan Layanan Bayi, RSHS Bandung Minta Maaf dan Janjikan Perbaikan
Hukrim

Bayi Tertukar di NICU RSHS Bandung? Klarifikasi Dirut Buka Celah Serius Sistem Keselamatan Pasien

21 jam ago
BTN Jakim 2026 Diserbu 40 Ribu Pelari, EJ Sport Pasok Nutrisi
Gaya Hidup

BTN Jakim 2026 Diserbu 40 Ribu Pelari, EJ Sport Pasok Nutrisi

22 jam ago
7 Fakta Permainan Kuno di Borobudur yang Baru Terungkap, Bukan Sekadar Candi
Nasional

7 Fakta Permainan Kuno di Borobudur yang Baru Terungkap, Bukan Sekadar Candi

1 hari ago
1.200 Pelamar Padati Booth KAI, Ini 5 Hal Penting yang Harus Diketahui
Ekbis

1.200 Pelamar Padati Booth KAI, Ini 5 Hal Penting yang Harus Diketahui

1 hari ago
  • Redaksi
  • About
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Dewan Pers
  • Advertise
  • Contact Us

No Result
View All Result
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam
  • Dengar Radio!