Sukabumi, BandungOke – Anggota Komisi IX DPR RI, Zainul Munasichin, mengajak masyarakat ikut mengawal pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas nasional pemerintah.
Ajakan itu disampaikan dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Fresh Hotel, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Senin, 2 Maret 2026.
Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB tersebut dihadiri ratusan warga setempat. Sosialisasi dilakukan bersama mitra kerja pemerintah untuk memperluas pemahaman publik mengenai tujuan dan mekanisme program.
Dalam sambutannya, Zainul menegaskan bahwa kehadirannya merupakan bagian dari tugas pengawasan DPR sekaligus memastikan masyarakat memahami substansi program tersebut.
“Program ini bukan sekadar membagikan makanan, tetapi merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia,” ujar Zainul di hadapan peserta.
Ia menjelaskan, Program MBG dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak, membantu konsentrasi belajar di sekolah, serta mengurangi kesenjangan asupan makanan antar siswa.
Menurutnya, keberhasilan program sangat ditentukan oleh keterbukaan dan pengawasan bersama antara pemerintah, mitra kerja, serta masyarakat.
Menanggapi sejumlah perdebatan di ruang publik mengenai anggaran program, Zainul mengatakan bahwa biaya per porsi tidak seluruhnya digunakan untuk bahan makanan.
Ia menjelaskan bahwa anggaran juga mencakup biaya operasional dapur serta dukungan bagi mitra penyedia layanan.
“Karena itu, ketika menilai kualitas menu, pembandingnya bukan keseluruhan anggaran, melainkan alokasi khusus untuk bahan pangan,” katanya.
Zainul juga menanggapi usulan agar bantuan diberikan dalam bentuk uang tunai kepada orang tua siswa. Menurut dia, kebijakan tersebut akan mengubah tujuan program.
“Jika diberikan dalam bentuk uang, maka ini bukan lagi makan bergizi gratis, melainkan bantuan langsung tunai. Tidak ada jaminan dana tersebut digunakan untuk kebutuhan gizi anak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa standar menu yang relatif seragam diperlukan untuk menjaga kualitas gizi yang sama bagi seluruh siswa.
Selain meningkatkan kualitas gizi anak, program MBG juga dinilai berpotensi menggerakkan perekonomian lokal. Pelaksanaan program melibatkan tenaga kerja sekaligus menghidupkan rantai pasok pangan dari petani, peternak, pedagang bahan makanan, hingga pelaku usaha kecil.
“Artinya, program ini bukan hanya tentang makan, tetapi juga tentang membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi rakyat,” kata Zainul.
Melalui sosialisasi tersebut, ia berharap masyarakat dapat memahami tujuan program sekaligus ikut mengawasi pelaksanaannya agar manfaatnya dirasakan secara luas.***





