Bandung, BandungOke — Upaya pemberantasan buta huruf Al-Qur’an di Kota Bandung memasuki babak baru.
Dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) ICMI Orda Kota Bandung bertema “Menguatkan Kelembagaan, Mensinergikan Kegiatan dalam Mendukung Kota Bandung Berkelanjutan”, kolaborasi antara ICMI dan Pemerintah Kota Bandung ditegaskan sebagai langkah strategis berbasis data hingga level kecamatan.
Ketua ICMI Orda Kota Bandung, Tatang Muhtar, menekankan pentingnya pendekatan terukur dalam menyelesaikan persoalan literasi Al-Qur’an. Ia menyebut, program ini tidak bisa hanya berbasis asumsi, tetapi harus dimulai dari pemetaan riil di masyarakat.
“Harapannya ke depan, melalui kita nanti di tiap kecamatan, dimulai dari data. Berapa sebenarnya masyarakat yang masih buta huruf Al-Qur’an. Kalau datanya sudah ada per kelurahan, kita bisa gempur habis dengan berbagai program,” ujar Tatang di Pendopo Kota Bandung, Rabu 15 April 2026.
Menurutnya, Kecamatan Panyileukan menjadi salah satu titik awal implementasi program berbasis wilayah. Pendekatan ini dinilai penting untuk memastikan intervensi yang dilakukan tepat sasaran dan berdampak langsung.

Tak hanya itu, ICMI juga menggandeng metode pembelajaran cepat yang diperkenalkan oleh Ustadz Abu Rabbani. Metode ini diklaim mampu membantu masyarakat yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur’an menjadi mampu membaca dalam waktu singkat.
“Metode ini sudah diujikan. Dalam 90 menit, yang benar-benar belum bisa baca tulis Al-Qur’an bisa mulai membaca. Ini jadi alternatif percepatan,” kata Tatang.
Ia juga menekankan bahwa pendekatan pengajaran yang humanis menjadi kunci keberhasilan program ini. Menurutnya, proses belajar tidak boleh membuat peserta merasa disalahkan, melainkan dituntun secara bertahap.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Bandung menyambut positif inisiatif tersebut. Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Kota Bandung, Nasrulloh Jamaludin, menilai sinergi dengan ICMI menjadi bagian penting dalam penguatan program pembangunan manusia berbasis nilai keagamaan.
“Kami melihat ini sebagai kolaborasi strategis. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kehadiran ICMI dengan pendekatan berbasis komunitas dan metode yang aplikatif menjadi penguat program kami, khususnya dalam peningkatan literasi keagamaan masyarakat,” ujar Nasrulloh.
Ia menambahkan, Pemkot Bandung siap mendukung dari sisi fasilitasi data hingga integrasi program di tingkat kewilayahan.
“Kalau pemetaan sudah jelas, intervensi program akan lebih terarah. Ini sejalan dengan visi pembangunan Kota Bandung yang berkelanjutan, tidak hanya fisik tapi juga kualitas SDM,” katanya.
Rakerda ini juga menjadi momentum refleksi kepengurusan ICMI Orda Kota Bandung yang dipimpin Tatang Muhtar sejak 2021, menggantikan almarhum Haji Samsir. Dalam forum tersebut, Tatang menyampaikan bahwa masa jabatannya akan segera berakhir dan mendorong regenerasi kepemimpinan ke depan.
Namun demikian, ia berharap fondasi program yang telah dirintis, terutama dalam kolaborasi dengan pemerintah, dapat terus dilanjutkan dan diperkuat.
Dengan pendekatan berbasis data, metode pembelajaran cepat, serta sinergi lintas sektor, program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an di Kota Bandung diharapkan tidak hanya menjadi wacana, tetapi gerakan nyata yang menjangkau hingga lapisan masyarakat paling bawah.***





