Bandung, BandungOke — Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orda Kota Bandung mendorong pendekatan terintegrasi dalam upaya pemberantasan buta huruf Al-Qur’an, dengan mengaitkannya pada visi pembangunan Kota Bandung yang lebih luas.
Organisasi ini tak hanya fokus pada literasi keagamaan, tetapi juga merancang ekosistem penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan, ekonomi, dan kepemimpinan.

Sekretaris Dewan Pakar ICMI Orda Kota Bandung, Aep Saepulloh, menyebut gerakan ini berangkat dari paradigma “5K ICMI”: Iman dan Takwa, Pikir, Karya, Kerja, dan Hidup. Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi fondasi dalam menyinergikan program ICMI dengan visi Bandung Utama yang diusung Pemerintah Kota Bandung.
“ICMI bukan sekadar organisasi, tapi gerakan intelektual berbasis iman dan ilmu. Dalam konteks Kota Bandung, kami menempatkan diri sebagai mitra strategis pemerintah sekaligus motor perubahan sosial,” kata Aep dalam forum Rapat Kerja Daerah ICMI Orda Kota Bandung. Rabu 16 April 2026.
Dalam kerangka itu, program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an menjadi pintu masuk. Namun, Aep menegaskan, intervensi yang dilakukan tidak berhenti pada kemampuan membaca semata.
“Gerakan seperti Bandung Mengaji itu bagian dari kualitas iman dan takwa. Tapi setelah itu, harus naik ke kualitas pikir, karya, dan kerja. Jadi masyarakat tidak hanya bisa membaca, tapi juga berkembang secara intelektual dan ekonomi,” ujarnya.
ICMI, kata dia, tengah merintis sejumlah program turunan. Di sektor ekonomi, organisasi ini menyiapkan creative hub dan inkubator bisnis bagi pelaku UMKM. Program ini diarahkan untuk mendorong kemandirian ekonomi warga berbasis komunitas.
Sementara di bidang kepemimpinan, ICMI bersama elemen pemuda merancang Sekolah Kepemimpinan yang akan fokus pada etika birokrasi dan kepemimpinan publik. Program ini ditujukan untuk mencetak generasi baru yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki integritas.
“Kami ingin ada sekolah kepemimpinan nasional yang lahir dari Bandung. Ini bagian dari kualitas kerja—bagaimana mencetak pemimpin yang amanah dan beretika,” kata Aep.
Pada aspek sosial, ICMI juga menekankan pentingnya gerakan kolaboratif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini, organisasi tersebut memposisikan diri sebagai simpul sosial yang menjembatani berbagai kepentingan, baik pemerintah maupun masyarakat.
Aep menilai, peran ICMI sebagai agent of social change menjadi kunci dalam menggerakkan perubahan dari bawah.
“Perubahan itu tidak datang dari luar. ICMI hadir sebagai fasilitator, menggerakkan masyarakat agar mampu mengubah dirinya sendiri. Di situ letak peran strategis kami,” ujarnya.
Upaya ini selaras dengan langkah Pemerintah Kota Bandung yang menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas. Kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat dinilai penting untuk menjangkau persoalan yang bersifat kultural, seperti literasi Al-Qur’an.
Dengan pendekatan berbasis paradigma 5K, ICMI Kota Bandung mencoba menggeser pola intervensi dari yang bersifat parsial menjadi lebih holistik. Buta huruf Al-Qur’an tidak lagi dilihat sebagai isu tunggal, melainkan bagian dari tantangan besar pembangunan kualitas manusia.***





