Bandung, BandungOke – Angka pengangguran 7,44 persen di Kota Bandung menjadi sinyal serius bagi pemerintah daerah. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memilih pendekatan padat karya dan pelatihan kompetensi sebagai solusi jangka pendek sekaligus menengah.
Program ini menyasar dua persoalan utama: minimnya lapangan kerja dan ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri.
Padat karya dirancang sebagai “shock absorber” ekonomi — memberi pekerjaan cepat, meski bersifat sementara. Sementara pelatihan kompetensi menjadi investasi jangka panjang.
Farhan menekankan, program ini bukan sekadar bantuan.
“Ini kesempatan untuk menunjukkan kemampuan kerja,” katanya.
Namun tantangan tetap besar. Bandung sebagai kota tujuan pencari kerja membuat persaingan semakin ketat. Tanpa peningkatan skill, tenaga kerja lokal berisiko kalah bersaing.
Di sinilah efektivitas pelatihan diuji: apakah benar-benar link and match dengan industri, atau sekadar program rutin tanpa dampak signifikan.***





