Jakarta, BandungOke — Di tengah dominasi wacana olahraga prestasi yang selama ini berkutat pada medali dan turnamen internasional, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memilih jalur berbeda.
Di hadapan pengurus Federasi Olahraga Domino Nasional (Orado), ia mendorong domino bukan sekadar permainan meja, melainkan motor ekonomi baru dalam industri olahraga Indonesia.
Di forum pelantikan pengurus provinsi Orado se-Indonesia di Jakarta, Rabu (6/1), Erick mengingatkan bahwa olahraga nasional tak bisa lagi dipahami hanya lewat ukuran podium.
“Saya ingin melihat perspektif olahraga nasional ini tidak hanya dilihat dari prestasi,” ujar Menpora dalam sambutannya. Dikutip Kamis (8/1/)
Nada ucapannya terdengar seperti koreksi halus terhadap pendekatan lama dimana olahraga dibangun, tapi industrinya tertinggal. Padahal, di level global, olahraga telah lama menjelma menjadi ekosistem bisnis lintas sektor mulai dari event, turisme, sponsorship, hingga ekonomi kreatif.
Erick memaparkan besarnya nilai ekonomi olahraga dunia yang tak lagi bisa dipandang sebelah mata.
“Kalau kita lihat angka sport industry di dunia Rp80 ribu triliun, tumbuh delapan persen per tahun,” kata Erick.
Angka itu, dalam kacamata ekonomi, bukan sekadar statistik, ia menunjukkan jarak antara potensi dan kenyataan. Indonesia memiliki pasar penonton besar, minat komunitas tinggi, namun belum sepenuhnya memproduksi nilai tambah ekonomi dari aktivitas olahraga.
Di titik ini, domino masuk sebagai pernyataan politik olahraga sebagai cabang non-mainstream yang ingin didorong masuk ke arena industri.
Erick menilai Indonesia perlu memanfaatkan peluang dengan mengembangkan berbagai cabang olahraga termasuk domino sebagai bagian dari ekosistem sport industry.
Bagi pemerintah, langkah ini bukan hanya soal memberi panggung pada cabang baru, tetapi juga menguji keberanian negara memperluas definisi olahraga prestasi.
Pertanyaannya lalu menggantung
apakah domino akan menjadi simbol demokratisasi olahraga, atau sekadar eksperimen ekonomi yang menunggu pembuktian di lapangan?
Di antara tepuk tangan para pengurus Orado, pernyataan Erick terasa seperti undangan untuk menata ulang struktur industri olahraga dari meja kompetisi, ke meja kebijakan.***





