BandungOKE
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam
  • Dengar Radio!Baru
No Result
View All Result
BandungOKE
No Result
View All Result

Kerusuhan May Day Bandung Rusak 75 Persen Fasilitas Lalu Lintas, Kerugian Ratusan Juta

Abdul Hadi
2 Mei 2026 - 09:14
Kerusuhan May Day Bandung Rusak 75 Persen Fasilitas Lalu Lintas, Kerugian Ratusan Juta



Bandung, BandungOke — Peringatan Hari Buruh Internasional di Bandung yang semula berjalan tertib berubah menjadi catatan serius bagi tata kelola keamanan kota. Kericuhan pada Jumat malam, 1 Mei 2026, tak hanya menyisakan bentrokan, tetapi juga kerusakan infrastruktur vital yang menopang lalu lintas perkotaan.

Di simpang strategis Balubur–Tamansari, kerusakan mencapai tingkat yang sulit dianggap insidental. Lampu Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) hingga jaringan fiber optic—yang menjadi “otak” pengendali sistem lalu lintas—dilaporkan hancur hingga 75 persen. Dampaknya bukan sekadar padamnya lampu merah, melainkan terganggunya sistem koordinasi lalu lintas secara menyeluruh.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Rasdian Setiadi, menyebut skala kerusakan tersebut signifikan, baik secara teknis maupun finansial.

RelatedPosts

Di Balik Satwa yang Terurus, Ada Karyawan Setia: Andri Minta Jangan Disingkirkan

Rekayasa Gedung Sate Berlaku 100 Hari, Akses Dipangkas, Pengendara Wajib Putar Arah

Sejarah Bandung Diolah AI, Pameran Gratis Ini Jadi Magnet Baru Wisata Edukasi

“Kerusakan meliputi lampu APILL serta box fiber optic node termination dan controller dengan estimasi kerusakan mencapai 75 persen atau sekitar Rp400 juta,” ujarnya.

Kerusakan pada node fiber optic dan controller menandakan gangguan pada sistem kendali terpusat. Artinya, bukan hanya satu titik persimpangan yang terdampak, melainkan potensi disrupsi pada jaringan lalu lintas yang lebih luas. Dalam konteks kota dengan mobilitas tinggi seperti Bandung, gangguan ini berisiko memicu kemacetan berlapis hingga kecelakaan lalu lintas.

Pemerintah kota kini berada dalam posisi reaktif. Perbaikan darurat dilakukan dengan memanfaatkan anggaran pemeliharaan yang tersedia, sembari memastikan lalu lintas tetap berjalan meski dalam kondisi terbatas.

“Kami upayakan agar lalu lintas tetap berjalan dengan lancar pasca kerusuhan demo semalam meskipun kondisinya terbatas,” kata Rasdian.

Sebelumnya, pengamanan Hari Buruh di Bandung diklaim berjalan sesuai prosedur. Kepala Satpol PP Kota Bandung, Bambang Sukardi, menyebut situasi sejak pagi hingga sore terpantau kondusif, tanpa pergerakan massa yang signifikan.

“Sejak pukul 09.00 hingga 16.00 WIB personel gabungan melakukan pengamanan dan siaga di sekitar Gedung Sate dan DPRD Provinsi Jawa Barat. Situasi terpantau aman dan kondusif, belum ada pergerakan massa,” jelasnya.

Namun, stabilitas itu runtuh dalam hitungan jam. Sekitar pukul 18.00 WIB, kawasan Dago Cikapayang berubah menjadi titik eskalasi. Kelompok yang diduga berafiliasi dengan anarko mulai melakukan perusakan—dari pembakaran ban hingga fasilitas pembatas jalan. Situasi memburuk ketika massa dari arah Tamansari bergabung, memperbesar skala kericuhan.

Polisi menyebut pola aksi kelompok ini tidak menunjukkan karakter demonstrasi konvensional. Tidak ada tuntutan yang disampaikan, tidak ada negosiasi. Yang tersisa hanyalah perusakan.

Kapolda Jawa Barat, Rudi Setiawan, menegaskan indikasi keterlibatan kelompok tertentu berdasarkan pola dan atribut yang digunakan.

“Kalau melihat ciri-cirinya saya menilai mereka mengarah ke kelompok Anarko dengan pakaian serba hitam dan wajah tertutup,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa aksi tersebut terlepas dari agenda resmi peringatan Hari Buruh.

“Tidak ada pembicaraan menyampaikan pendapat atau memperjuangkan sesuatu. Yang ada justru pengerusakan,” tegasnya.

Sejumlah orang telah diamankan, namun aparat masih mendalami identitas dan motif di balik aksi tersebut.

Di luar aspek keamanan, insiden ini membuka persoalan yang lebih mendasar: rapuhnya perlindungan terhadap infrastruktur kota. Sistem lalu lintas modern berbasis digital seperti fiber optic seharusnya memiliki skema proteksi berlapis, mengingat perannya yang krusial dalam mengatur mobilitas warga.

Fakta bahwa satu titik kerusuhan mampu melumpuhkan hingga 75 persen perangkat pengendali lalu lintas menunjukkan adanya celah—baik dalam desain ketahanan infrastruktur maupun dalam mitigasi risiko saat terjadi gangguan sosial.

Kerusuhan ini pada akhirnya bukan hanya soal ketertiban umum, melainkan juga tentang daya tahan kota menghadapi gangguan tak terduga. Ketika fasilitas vital bisa dirusak dalam waktu singkat, pertanyaan berikutnya menjadi tak terhindarkan: seberapa siap kota ini melindungi sistem yang menopang kehidupan sehari-hari warganya?

Editor: Denny Surya
Tags: aksi anarkodemo ricuh BandungDishub Bandungfasilitas kota rusakfiber optic rusakinfrastruktur perkotaanKapolda Jabarkeamanan kotakerusuhan Bandunglampu lalu lintas BandungMay Day Bandung 2026
Share219Tweet137Share55
ADVERTISEMENT

Trending

Upper Cisokan Longsor, Proyek Energi Ambisius Tersandung Risiko Alam
Berita

Upper Cisokan Longsor, Proyek Energi Ambisius Tersandung Risiko Alam

3 menit ago
Kerusuhan May Day Bandung Rusak 75 Persen Fasilitas Lalu Lintas, Kerugian Ratusan Juta
Kota Bandung

Kerusuhan May Day Bandung Rusak 75 Persen Fasilitas Lalu Lintas, Kerugian Ratusan Juta

3 jam ago
MBG Didorong Tekan Stunting di Kabupaten Bandung
Jawa Barat

MBG Didorong Tekan Stunting di Kabupaten Bandung

4 jam ago
3 Pihak yang Disorot dalam Kecelakaan Perlintasan Sebidang, Ini Penjelasan Pakar Perkeretaapian
Nasional

3 Pihak yang Disorot dalam Kecelakaan Perlintasan Sebidang, Ini Penjelasan Pakar Perkeretaapian

17 jam ago
Trauma Usai Kecelakaan KRL, Negara Hadir Pulihkan Luka Batin Korban
Nasional

Trauma Usai Kecelakaan KRL, Negara Hadir Pulihkan Luka Batin Korban

20 jam ago
  • Redaksi
  • About
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Dewan Pers
  • Advertise
  • Contact Us

No Result
View All Result
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam
  • Dengar Radio!